BLITAR-Sebuah workshop yang menyatu dengan salah satu rumah di Jalan Sawunggaling, Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar tampak sepi. Aneka produksi olahan kayu seperti rebana, kendang jimbe, marawis, ketipung, beduk, hingga calti diatur sedemikian rupa di etalase.
Inilah rumah Suparno, salah satu perajin usaha olahan kayu di kelurahan yang terkenal dengan “kampung perajin kayu” ini. Dunia perkayuan merupakan kesukaannya. Selain itu, anak-anak memang sudah akrab dengan dunia produksi berbagai kerajinan dari kayu.
Tak pelak, Suparno tak perlu berpikir terlalu panjang untuk langsung menggeluti pekerjaan pembuat aneka kerajianan kayu ini. “Dari kecil saya sudah suka dengan perkayuan. Dan semua orang, mulai dari orang tua, tetangga, dan teman adalah perajin kayu. Jadi, pekerjaan ini kayak sudah turun-temurun gitu,” tutur pria 53 tahun ini.
Awalnya, sebelum terjun langsung sebagai perajin, Suparno memilih membuka usaha menjual atau menyediakan kayu mentahan atau kayu balok sebagai bahan mentah untuk membuat kerajinan. Dia menjadi penyedia bahan untuk para perajin di lingkungan sekitar rumahnya.
“Awal mula usaha menjadi penyedia bahan baku kayu, dijual ke sekitar, lama-kelamaan ikut jadi perajin. Karena pada dasarnya suka berkecimpung di perkayuan sejak masih bujangan,” kenangnya.
Selama ini, bahan dasar kerajinan alat musik biasanya menggunakan kayu mahoni. Karena kayu mahoni lebih tahan lama, lebih mudah dibentuk, dan paling penting adalah harga bahan bakunya murah dan lebih terjangkau daripada kayu lainnya.
“Biasanya memakai kayu mahoni, tidak terlalu keras, lebih awet, dan harganya lebih murah,” bebernya.
Untuk pemasaran, selain bekerja sama dengan para pelanggan dari berbagai kota di Indonesia, Suparno tidak ingin merambah pemasaran produknya secara online. Meskipun para perajin di sekitarnya mulai memanfaatkan sarana media sosial untuk memperkenalkan produknya, tapi dia tetap menggunakan metode pembelian secara tatap muka atau pesan langsung.
“Saya enggak memakai jual online. Sata tidak biasa. Jadi tetap gaya lama, bisa datang langsung ke rumah atau bagi pelanggan jauh yang mau pesan bisa lewat telepon,” ungkapnya.
Meskipun tidak menggunakan metode pemasaran model anyar, untuk omzet, Suparno mengaku bisa menerima hingga ratusan juta dalam sebulan. Dia melihat bahwa kualitas barang masih menjadi nomor satu daripada sekadar memanfaatkan pemasaran secara online.
“Semua orang saya layani, kalau saya bisa, ya saya layani. Tergantung permintaan atau request. Penggarapan mulai dari bahan mentah sampai jadi, termasuk finishing bisa sesuai permintaan pembeli. Yang penting bisa memuaskan pelanggan,” akunya.
Harga produk alat musik pun beragam. Rebana mulai dari Rp 250 ribu per paket sampai Rp 300 ribu. Kemudian, kendang ada yang mulai dari Rp 12 ribu tergantung ukuran, motif, dan kualitas. Tidak ada momen tertentu untuk pemesanan produk di tempatnya.
“Kalau mendekati Ramadan, banyak-banyaknya ya servis rebana, beduk, dan pesanan kendang dalam skala kecil,” tegasnya.
Menurut Suparno, produk kerajinan miliknya tidak hanya menjangkau pasar domestik, tapi juga ke pasar internasional.
Karena beberapa waktu lalu, dia sempat bekerja sama dengan pelanggan dari negeri Tiongkok, dengan setiap order berjumlah satu kontainer. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila