BLITAR - Pondok Pesantren (Ponpes) Nasyrul Ulum di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, menggelar program ngaji kilatan bagi siapapun ingin ikut kegiatan tersebut selama Ramadhan.
Lurah Ponpes Nasyrul Ulum, Balya Mubarid Asrori mengatakan, banyak dari instansi ingin ikut ngaji kilatan. “Tahun ini data yang masuk sementara ada empat instansi, yakni SMKN Nglegok, SMPN Nglegok, MTs Syekh Subakir, dan SD di barat pondok,” terangnya Senin (11/3/2024).
Dia mengaku, istilahnya sama dengan pondok-pondok lain, namanya pengajian kilatan ngaji 1 sampai 3 pertemuan. Tapi kalau di pondok Ramadan bisa sampai 5 pertemuan pengajian di setiap selesai waktu salat.
Ada beberapa bidang keilmuan nanti bakal dikaji di ngaji kilatan. Termasuk akhlak, fiqih, dan tauhid. Maka dari itu, tidak seperti pengajian di momen hari biasa, metode ngaji kilatan ini bertujuan pada cepat khatam, dapat tulisan makna di kitab, dan bisa langsung dipraktikkan di masyarakat.
Selain dari instansi, program ngaji kilatan juga diikuti dari banyak kalangan umum hingga para alumni. Banyak yang mukim dan banyak pula tidak mukim (tidak tinggal di pondok pesantren). Jadi setelah mengaji, mereka pulang ke rumah masing-masing.
Saking banyaknya antusias dari calon santri kilatan, maka pengurus ponpes dibuatkan sistem gelombang.
“Untuk SMK, gelombang pertama diisi oleh kelas sebelas dan gelombang kedua, oleh siswa kelas dua belas,” ucap Barid, sapaan Balya Mubarid Asrori.
Di ponpes asuhan KH Aba Rofrofil A’la ini, ngaji kilatan tahun ini diikuti 98 anak di gelombang pertama dan gelombang kedua 105 anak. Siswa dari sekolah dasar menjalani ngaji kilatan selama dua hari. Butuh rolling jadwal agar semua bisa ikut ngaji kilatan.
Lalu, siswa SMP dari kelas 7 hingga 9 ngaji kilatan dari pukul 07.00 hingga 12.00 selama lima hari. Sedangkan untuk siswa SMK akan mukim selama 3 hari.
“Ada lagi dari MTs Syekh Subakir, kan di sini juga berkolaborasi. Jadi mereka ngaji kilatan dan mukim selama 10 hari. Dari Ramadan pertama sampai Ramadan kesepuluh,” jelasnya.
Rangkaian kegiatannya dimulai saat sore, dengan pengajian kitab Arbain al-Baihaqi, sampai menjelang buka. Di sisi lain, kegiatan ubudiyah seperti salat berjamaah tentu ada absennya. Bukan tanpa alasan, namun untuk melatih kedisiplinan.
Untuk kegiatan malam, ada salat Magrib berjamaah, nderes Alquran sampai sebelum waktu Isya, lalu Tarawih. Setelah Tarawih terdapat dua pengajian.
Khusus santri mukim, ngaji di bidang tauhid dan adab, sampai pukul 10.00. Setelah itu qiroatul quran sampai Subuh.
Di pondok yang telah berdiri sejak 1918 ini, membuka juga isian materi request untuk ngaji kilatan.
“Seperti contoh dari guru SMKN Nglegok, yang ingin menekankan materi ngaji lebih kepada bidang adab atau akhlaq. Karena sifat, watak tiap anak berbeda,” pungkasnya. (mg4/din)
Editor : M. Subchan Abdullah