BLITAR - Musala An-Nuur atau Langgar Gantung di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, menyimpan sejarah penyebaran Islam di Kota Blitar.
Bangunan tua yang dibangun tahun 1825 ini didirikan oleh salah satu prajurit pejuang Diponegoro, yang dikenal dengan Mbah Iro Dikoro.
“Konon pendiri Langgar Gantung (Mbah Iro Dikoro) pernah menjabat sebagai bupati di Mataram dan bergabung ke pasukan Diponegoro,” ungkap ahli waris Langgar Gantung, H Isman Hadi, Rabu (13/3).
Saat itu, kondisi perang berkecamuk. Mbah Iro Dikoro melarikan diri dari wilayah Jawa Tengah bersama lima orang temannya. Dua di antaranya yaitu Mbah Iro Kerto dan Mbah Iro Dongso.
Setelah melarikan diri ke wilayah Blitar, mereka membawa misi menyebarkan agama Islam, terutama di wilayah Plosokerep.
Bukti yang masih tampak sampai sekarang ini dengan adanya bangunan fisik tempat ibadah sekaligus tempat pendidikan agama Islam.
Interior bangunan hingga fasilitas terlihat masih baik. Ornamen masih asli dari bentuk awal di pengimaman.
Hal ini lantaran ahli waris sekaligus yang mendapat amanah untuk mengelola langgar sejak tahun 2020 berupaya penuh dalam pelestarian langgar tersebut.
“Pernah revonasi untuk ganti kayu usuk, reng, sama genting. Karena termakan usia, banyak yang rusak, bocor, kena makan rayap,” kata pria pensiunan ASN tersebut.
Tempat wudu dahulu ada semacam kolam dan sumur. Karena perkembangan zaman, sekarang kamar mandinya sudah dibenahi dan juga ada penggantian jadi sumur bor.
Selain atap dan kamar mandi mengalami pembenahan, ada juga plafon, lantai, dan teras langgar.
“Plafon mengalami ganti satu kali karena termakan usia dan juga dipenuhi debu gunung meletus, akhirnya rusak. Sempat diganti eternit, terus diganti lagi (ke anyaman bambu),”ujarnya.
Penggarapan plafon dikatakan tersulit. Karena tidak ada perajin yang bisa membuat anyaman bambu seperti bentuk aslinya, serta tidak ada kualitas bambu yang sekuat seperti dulu.
Baru menemukan perajinnya pun di luar Blitar, tepatnya di Jombang. “Lantai langgar sekarang dari kayu balok, dulunya dari kayu jati.
Karena sudah semakin renggang, jadinya direnovasi. Pelataran ini dulunya bukan keramik, melainkan tanah merah,” ucap pria yang sempat tinggal di Sidoarjo ini.
Alat komunikasi tradisional, beduk, juga masih terlihat kokoh dan orisinal sejak dahulu. Walaupun kentongan pasangan dari beduk sudah tergantikan dengan yang baru, kentongan yang asli disimpan di bawah tepat Langgar Gantung.
Guna tetap menjaga kelestarian langgar masih kedapatan kendala. Terbesarnya mengenai biaya perawatan.
Karena, pengeluaran biaya selama ini masih dari keluarga pihak pendiri langgar dan masyarakat sekitar.
“Jadi kalau ada kebutuhan renovasi, saya foto dan saya share di grup-grup WhatsApp. Semacam partisipasi sukarela,” tandasnya.
Di sisi lain, mengenai sukarela atau amal, ada yang unik pada kotak amal yang dibalut penuh dengan las besi.
Dia menceritakan bahwa pernah suatu ketika dirinya dan warga akan melaksanakan pembenahan di beberapa fasilitas.
Dengan biaya dari kotak amal yang sudah terkumpul dalam setahun. Sebelum kotak amal dibuka, ternyata sudah raib dicuri. “Ada kenangan pahit lagi,” tandasnya.
Dia ketika akan merenovasi beberapa bagian langgar, otomatis butuh banyak biaya. Bahkan tanpa adanya bantuan dari pemerintah dan lembaga-lembaga di Kota Blitar.
Akhirnya kembali mengumpulkan biaya dari keluarga dan masyarakat.“Dari pemkot, dari dahulu belum ada (bantuan) sama sekali.
Baru kemarin (sekitar dua minggu lalu) ada sumbangan dari pihak TVRI. Dihadiri sama kepala dinas pariwisata beserta stafnya,” ungkapnya.
Kedatangan pihak dinas pariwisata seakan memberikan angin segar bagi Langgar Gantung. Terlebih setelah pemberian sumbangan dari pihak TVRI sempat diadakan rapat pleno di area langgar.
“Di situ diadakan rapat, saya disuruh membuat permohonan proposal buat biaya perawatan, pengecatan, dan lain-lain.
Tujuannya akan diikutkan anggaran di dinas pariwisata. Untuk kepastian biaya yang didapat belum diketahui,” ucapnya.
Dia menambahkan, hingga kini Langgar Gantung masih dipergunakan sebagai tempat ibadah. Sama halnya saat Ramadan kali ini, pagi setelah Subuh merupakan jadwal tadarus bagi ibu-ibu setempat.
Ma-lamnya, jadwal tadarus bagi bapak-bapak. Dalam hal pendidikan nonformal sudah tidak ada pengajian di Langgar Gantung ini.
Dikarenakan, Kelurahan Plosokerep sendiri telah membangun madrasah. Pada akhirnya anak-anak dialihkan ke sana dalam hal pembelajarannya. (mg4/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila