BLITAR - Menjadi seorang perawat merupakan cita-cita Binti Khususiyah SKepNs sejak kecil. Meski banyak tantangan, Binti sapaan akrabnya tak merasa bosan bertemu dengan berbagai karakter pasien sejak 38 tahun lalu.
SEJAK tahun 1986, warga Kelurahan Kecamatan Kepanjenkidul ini sudah bekerja sebagai perawat di RSUD Mardi Waluyo, Kota Blitar.
Tepatnya setelah lulus sekolah perawat kesehatan (SPK) di Blitar. Kemudian melanjutkan D-3 Keperawatan di Polkesma Malang. Sebab, ada aturan baru bahwa perawat harus punya gelar D-3.
“Waktu itu SPK di Blitar masih baru, saya angkatan kedua. Karena ada wacana bahwa perawat harus D-3, akhirnya saya dan tiga teman saya kuliah lagi D-3 Keperawatan. Kalau sekarang perawat minimal kalau bisa S-1,” katanya kepada Koran ini, Sabtu (16/7).
Setelah menjadi perawat, Binti juga menduduki beberapa posisi di rumah sakit. Seperti sekertaris instalasi rawat inap, kepala ruang, dan ketua tim penguji ujian kompetensi perawat.
Kini, dia menjabat sebagai ketua subkomite mutu keselamatan pasien sekaligus manajer pelayanan pasien (MPP).
Menurut dia, perawat zaman dulu adalah perawat yang all-rounder. Sebab, semua pekerjaan harus dikerjakan secara mandiri.
Mulai jadi cleaning service, admin, perawat, hingga dokter. Kondisi itu karena jumlah tenaga kesehatan dan pekerja yang masih terbatas.
Dengan begitu, perawat mengurus pasien sembari mengerjakan pekerjaan lain yang bukan job desk-nya.
PBaca Juga: Meski Diburu untuk Menu Buka Puasa, Harga Gula Merah di Blitar Tetap Stabil
“Itu yang menjadi kenangan pahit sekaligus indah yang selalu teringat,” sambung perempuan 58 tahun ini. Kondisi itu, lanjutnya, berlangsung cukup lama. Setelah ada aturan bahwa perawat harus punya jenjang pendidikan D-3, barulah bisa menjadi perawat yang profesional.
Serta ada batasan-batasan pekerjaan yang harus dilakukan dan ada penambahan profesi lain, seperti cleaning service, ahli gizi, fisioterapi, dan sebagainya.
Dengan begitu, perawat bisa fokus merawat pasien secara profesional.Genap 38 tahun menjalani profesi perawat bukanlah waktu yang singkat.
Ibu dua anak ini mengaku sudah bertemu dengan berbagai karakter pasien dengan bermacam keluhan.
Bahkan, ada yang sudah seperti keluarga sendiri. Membangun kedekatan dengan pasien sangat penting untuk memberikan rasa nyaman sekaligus kepercayaan kepada pasien.
Menurut dia, perawat jadi satu-satunya tenaga kesehatan yang menjadi tumpuan komplain dari semua pihak.
Bisa dari pasien, keluarga pasien, pengunjung, hingga rumah sakit. Sebab, jika ada complain tentu harus bisa memberikan tanggung jawab, baik kepada pasien maupun atasan.
“Karena sebagai perawat, kita yang paling dekat dan harus mendampingi pasien 24 jam,” bebernya.
Satu momen yang juga membekas adalah adanya pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Tenaga medis menjadi pekerja paling sibuk selama hampir dua tahun terakhir.
Pasalnya, banyak masyarakat yang terpapar virus Korona. Baik dari Kota maupun Kabupaten Blitar.
Di saat yang sama, banyak rumah sakit yang enggan menerima pasien Covid-19. Namun, ada aturan baru dari pemerintah yang mengharuskan semua rumah sakit menangani pasien Covid-19.
Binti menceritakan, semua tenaga medis harus memakai hazmat selama berjam jam untuk merawat pasien.
Menghadapi banyaknya pasien, hingga mendapat hujatan-hujatan negatif dari masyarakat, seperti perawat maupun dokter memberikan status Covid-19 kepada setiap pasien yang masuk rumah sakit agar bisa mendapat perawatan.
Padahal, dari hasil pemeriksaan, pasien benar-benar terpapar virus tersebut. Keadaan semakin mencekam ketika satu per satu rekan perawat meninggal.
Meski memakai perlengkapan pelindung atau baju hazmat, mereka masih terpapar virus Covid-19 dari pasien.
Waktu itu banyak tenaga medis yang ikut terpapar Korona. Empat orang meninggal dunia.
“Kebanyakan dari keluarga. Bisa dikatakan, kita pulang ke rumah membawa virus. Karena kita sudah kebal dan kuat, virus itu malah menyerang anggota keluarga. Bahkan, ibu saya juga meninggal karena Covid-19,” bebernya.
Setiap tanggal 17 Maret diperingati sebagai Hari Perawat Nasional. Perawat merupakan pekerjaan yang mulia.
Dengan begitu, perawat harus ikhlas dalam menjalankan tugas secara profesional sesuai dengan ilmu keperawatan yang didapat.
“Teman-teman perawat harus bisa melayani dengan tulus dan ikhlas. Bekerja secara profesional sesuai SOP dan ilmu keperawatan yang diperoleh ketika kuliah dulu,” tandasnya. (ink/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila