BLITAR - Perawat merupakan sosok paling dekat dengan pasien yang ada di semua layanan kesehatan.
Hal itu dirasakan Mei Chandra Budi Lestari, yang kini menjadi perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngudi Waluyo Wlingi.
Pengalamannya banyak di bidang keperawatan. Sebab, dia sudah lebih dari 5 tahun menjadi garda terdepan dalam menangani pasien.
Bahkan, Mei sapaan akrabnya, sempat merasakan menjadi perawat di ruang isolasi Covid-19 selama 1,5 tahun.
“Awalnya menjadi perawat bukan cita-cita saya. Namun karena dorongan dan doa orang tua, syukurnya hingga kini bisa bertahan. Apalagi, saya dulu SMA ambil jurusan IPS. Masuk kuliah keperawatan hingga kerja di pelayanan kesehatan cukup ada tantangannya,” ujar Mei, Sabtu (16/3/2024).
Dia mengaku bahwa tidak langsung bekerja di RSUD Ngudi Waluyo. Usai lulus pendidikan di Poltekkes Kemenkes Malang, Mei bekerja di klinik selama 5 bulan.
Kemudian beralih menjadi perawat di rumah sakit usai ada rekrutmen CPNS. Datang pertama kali di rumah sakit, perempuan 27 tahun ini menjadi perawat di ruang jantung dan paru.
Hanya setengah tahun di ruang paru, dia kemudian dialihkan ke isolasi Covid-19. Kemudian, dia menjadi perawat di ruang stroke selama 2 tahun terakhir ini.
Dia memiliki kenangan tersendiri ketika menjadi perawat di ruang isolasi Covid-19. Sebab, dia sempat mengalami dua kali positif Covid-19.
Selain itu, ada tantangan komunikasi dan edukasi kepada masyarakat karena simpang siurnya informasi pandemi tersebut.
“Waktu itu ada pasien gagal ginjal terserang Covid-19 dan masih muda. Di antara pasien yang lain, dia yang paling semangat dan
membangkitkan keceriaan kepada pasien lain. Bahkan sempat membuat hal kesenangan bagi perawat dan pasien lain. Itu yang berkesan sampai sekarang,” kenangnya.
Mei mengaku banyak menangani pasien lanjut usia, tapi juga ada beberapa pasien anak muda yang dirawatnya. Maka dari itu, dia harus menciptakan keramahan yang intensif.
Bahkan seperti dianggap anak sendiri, karena sempat dibawakan makanan oleh pasien ketika sudah pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan.
Baginya, menjadi perawat harus menciptakan kepercayaan dan kepedulian terhadap pasien. Tentu dengan perawat melakukan perkenalan kepada pasien dan keluarganya terlebih dahulu.
Dengan itu, rasa kepedulian muncul dengan menanyakan keluhan hingga memberikan pengarahan sesuai anjuran dokter.
“Kami berpesan kepada semua perawat untuk terus semangat dan berjuang menjadi perawat yang gigih dan tangguh. Selain itu, tetap mengutamakan tugas utama, yakni caring kepada pasien,” tuturnya.
Menariknya, Mei ini sebelum menjadi perawat sempat memiliki cita-cita menjadi penulis.
Bahkan pernah menerbitkan buku yang digarap bersama penulis lain.Namun, hal itu tidak dilanjutkan karena sudah sibuk di dunia keperawatan.
“Saya senang sudah pernah menerbitkan buku. Hal itu menjadi bukti bahwa saya pernah menjadi penulis.
Saat ini, meskipun tidak berkecimpung di tulismenulis, saya merawat literasi dengan hobi membaca,” pungkasnya. (jar/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila