BLITAR - Pembangunan masjid di Blitar sejak dulu terus bertambah seiring berjalannya waktu. Adapun Syekh Abu Na’im merupakan salah satu tokoh yang berjasa dalam pendirian masjid-masjid tua di wilayah Blitar, Tulungagung, Kediri, dan sekitarnya.
Syekh Abu Na’im wafat sekitar tahun 1979. Beliau dikebumikan di Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.
Berada di jalur utama Blitar-Tulungagung, akses jalan menuju makam cukup mudah. Hanya masuk ke Selatan dan mengikuti jalan sudah sampai ke area makam. Lokasi menuju makam juga sudah bisa diakses melalui ponsel pintar.
Syekh Abu Na’im merupakan salah satu waliullah yang tak lepas dari kehebatan dan keilmuan agama yang dimiliki.
Beliau merupakan salah satu keturunan Pangeran Diponegoro yang terkenal memiliki kehebatan dalam pembangunan masjid.
Salah satu zuriah Syekh Abu Na’im, Khozin menjelaskan, pembangunan masjid yang dimaksudkan itu dalam hal pemilihan lokasi hingga pemilihan barang. ”Bukan arsitekturnya,” tuturnya.
Karena kemampuannya yang luar biasa tersebut, beliau sering kali dimintai untuk ”menerawang” suatu lokasi yang akan digunakan dalam pembangunan masjid. Serta bahan-bahan yang akan digunakan termasuk kayu penyangga dan sebagainya.
Semasa hidupnya, Syekh Abu Na’im membantu pembangunan masjid yang tak terhitung jumlahnya.
Pria 49 tahun itu menuturkan, Masjid Agung Kota Blitar merupakan salah satu masjid hasil dari pembangunannya. ”Ya, itu beliau juga turut andil,” jelasnya.
Menurut Khozin, masjid di sebelah area makam sudah berdiri sejak 1942. “Modelnya dulu masih model lama, masih menggunakan gedek, ada joglonya. Lalu diperluas jadi seperti sekarang,” tambahnya.
Selain digunakan untuk salat lima waktu, masjid tersebut juga kerap menggelar semaan Alquran para hufaz. Yasin dan tahlil juga kerap didengungkan oleh warga tiap satu bulan sekali.
Area makam juga sering digunakan tawasul pada hari-hari biasa dan mengalami kenaikan pengunjung saat menjelang Ramadan.
Cucu Syekh Abu Na’im tersebut menjelaskan, pihak desa turut membantu dalam infrastruktur akses jalan meliputi pelebaran jembatan dan pelebaran pengaspalan jalan.
”Saking banyaknya yang ziarah dengan kendaran-kendaraan besar, akhirnya juga dibantu sama desa. Pembangunan makam juga gotong royong warga sekitar,” jelasnya.
Peziarah yang datang kebanyakan rombongan dari luar kota. Biasanya, setelah berziarah di Makam Bung Karno atau Petilasan Syekh Subakir akan langsung menuju Makam Syekh Abu Na’im.
Pada area pemakaman Syekh Abu Na’im turut disemayamkan istri beliau, Ibu Nyai Sutirah. Serta kakak iparnya yang merupakan salah satu pejuang kemerdekaan. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila