BLITAR - Tempat ibadah umat muslim termasuk musala dan masjid telah banyak didirikan bahkan sebelum masa kemerdekaan, salah satunya Masjid Baitul Amin.
Berlokasi di Dusun Centong, Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, bangunan tersebut didirikan oleh H. Amin pada tahun 1928 silam.
Dengan penataan bangunan berciri khas Jawa kuno ini memiliki ciri khas rumah sesepuh menghadap selatan serta makam pendiri beserta keluarga di sebelah barat masjid.
Menara yang berdiri kokoh hingga kini dulunya digunakan muadzin untuk mengumandangkan adzan.
Putra H. Amin, Abu Suja’ Amin menceritakan, pembangunan yang pertama dilakukan adalah bagian menara.
Bagian Menara disusun dari batu bata yang telah ditata sedemikian rupa, sehingga bangunan tersebut tetap kokoh bahkan hingga kini.
“Langgar duwur (tempatnya lebih tinggi) itu untuk antisipasi lahar Gunung Kelud, kira-kira waktu meletus tahun 1951 masjid penuh dengan pengungsi,” tutur pria kelahiran 1941 tersebut.
Selain menjadi salah satu fondasi syiar agama Islam di Blitar, masjid itu dulunya digunakan untuk menyusun strategi menghadapi orang-orang kolonial yang menjajah Indonesia.
Selain itu, juga menjadi tempat menggembleng para pejuang kemerdekaan. “Istilahnya dulu gemblengan, yang menggembleng dari Kiai Malik,” jelasnya.
Masjid tersebut bentuknya belum pernah diubah sejak berdiri, hanya perbaikan-perbaikan kecil namun tidak sampai merubah bentuk utama dari masjid.
Dia mengaku, dulu pernah ditawari untuk rehabilitasi masjid dengan dana penuh. “Direhab nanti takutnya dimasuki ide (ajaran) lain, jadi belum diterima biar begitu saja toh bangunannya masih baik,” tuturnya.
Selama bulan Ramadan, Masjid Baitul Amin menggelar pengajian selepas jamaah subuh serta tadarus Alquran selesai salat Tarawih. (mg2/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila