Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pengalaman Warga Blitar Menjalani Ibadah Puasa di Luar Negeri, Tidur 3 Jam, Tarawih 90 Menit di Masjidil Haram

Fajar Rahmad Ali Wardana • Jumat, 22 Maret 2024 | 18:20 WIB
PEKERJA MIGRAN: Ikhwan Nur Jihadi berfoto dengan latar belakang Kakbah.
PEKERJA MIGRAN: Ikhwan Nur Jihadi berfoto dengan latar belakang Kakbah.

BLITAR - Menjadi mimpi banyak orang dapat kerja sekaligus beribadah di kota suci Makkah, Arab Saudi. Namun, Ikhwan Nur Jihadi, warga Desa Kendarejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar tetap rindu budaya dan masakan Indonesia.

Suatu kehormatan umat muslim dapat menjalankan ibadah dan puasa di kota suci Makkah, Arab Saudi.

Begitu juga bagi Ikhwan Nur Jihadi, warga Desa Kendalrejo, Kabupaten Blitar yang kini bekerja sebagai housekeeping atau petugas kebersihan Hotel DubleTree, Makkah.

Kamis (21/3/2024), Ikhwan terpaksa menepi dari kesibukannya bekerja untuk berbagi pengalamannya dengan Koran ini.

Beberapa kali terdengar dia berkomunikasi dengan pengunjung hotel memakai bahasa Arab. Logat Arab-nya sudah cukup fasih.

Tahun ini menjadi momen kedua Ikhwan merasakan ibadah puasa di Makkah. Dia berpuasa setiap hari rata-rata 13 jam, imsak pukul 04.00, hingga magrib pukul 18.30 waktu Arab Saudi. Meskipun begitu, dia masih kangen dengan masakan dan budaya Ramadan di Indonesia.

“Sebenarnya puasa di Arab Saudi hampir sama seperti di Indonesia. Karena saya kerja di dalam ruangan, sehingga tidak terlalu merasakan panasnya matahari Arab Saudi. Hanya saja, saya jauh dari keluarga,” ujar Ikhwan, Kamis (21/3).

Beberapa perbedaan budaya Ramadan ditemui oleh Ikhwan. Tentu tidak ada pedagang yang berjualan takjil di tepi jalan raya seperti di tanah air.

Namun tidak terlalu merepotkan. Menjelang berbuka puasa, sudah disediakan masakan prasmanan di tempat kerjanya.

Meski begitu, kadang Ikhwan datang ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram yang menyediakan takjil gratis bagi jemaah.

Perbedaan lain yakni salat Tarawih cukup lama dibandingkan di kampung halamannya. Ikhwan hampir setiap hari menjalani salat Tarawih di Masjidil Haram bersama umat muslim dari berbagai negara.

Durasi salat Tarawih kurang lebih selama 1,5 jam dengan 10 rakaat Tarawih dan tiga rakaat salat Witir.

“Salat Tarawih yang lama itu karena bacaan ayatnya dalam satu kali Tarawih 1 juz Alquran. Setiap rakaat mungkin dua halaman pada Alquran. Meskipun lama, tapi saya bisa kuat menjalaninya,” ungkapnya.

Tidak hanya dia, anak-anak hingga orang tua di Makkah sudah terbiasa melakukan salat Tarawih selama 90 menit tersebut.

Padahal, saat menjalani salat Tarawih di desanya, dia sudah merasa lelah meski hanya setengah jam saja.

Hanya satu yang kurang bagi Ikhwan. Masakan Arab Saudi tidak begitu cocok dengan lidah lokalnya. Hal itu karena kurangnya rempah-rempah pada masakan tersebut.

“Masakan sehari-hari saya, seperti nasi biryani dan nasi kabsa yang berisi daging kambing. Masakan Indonesia seperti bakso juga ada, dan penjualnya orang tanah air, tapi rasanya tidak seperti di kampung,” tutur Ikhwan.

Ikhwan sudah 1,5 tahun bekerja di hotel yang lokasinya berjarak sekitar 550 meter dengan Masjidil Haram itu. Dengan begitu, ketika bekerja, dia sudah biasa melihat para umat muslim menjalankan ibadah umrah.

Ikhwan juga sering bertemu orang Indonesia yang sedang beribadah umrah. Di tempat kerjanya hanya ada 15 orang Indonesia yang menjadi temannya.

“Hidup di Arab Saudi cukup ramai dan padat masyarakatnya. Terutama setelah duhur hingga subuh, hampir 24 jam padat. Saya tidur malam hanya 3 jam, setelah itu sahur bersama teman asal Indonesia,” pungkasnya. (jar/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#housekeeping #makkah #Kabupaten Blitar #ramadan