BLITAR - Banyak wisata religi di Blitar yang terkenal di daerah lain namun masih kurang dikenal luas oleh masyarakat Blitar. Ya, Makam Auliya Mbrebesmili adalah salah satunya. Makam itu berada di Dusun Bedali, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat.
Berlokasi di pinggir sungai brantas, wisata religi Makam Auliya Mbrebesmili ini ternyata pernah dikunjungi oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gusdur ketika masih menjabat sebagai Presiden ke-4 RI.
Makam yang berada di lingkungan tersebut merupakan tokoh-tokoh Islam di Blitar yang merupakan pejuang bangsa dan agama sejak masa kolonialisme Belanda.
Adapun yang dimakamkan di komplek tersebut antara lain: Syaikh Abdullah Sya’ban (Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang) putra dari Mbah Kiai Raden Muhammad Qosim (Mbah Kiai Kasiman).
Namanya diabadikan menjadi Yayasan Kiai Raden Moh. Kasiman di Pendopo Pangulon utara Masjid Agung Kota Blitar. Nama “Gembrang Serang” disematkan karena beliau merupakan pejuang era perlawanan Nyi Ageng Serang.
Kemudian ada Syaikh Muhammad Asrori (Mbah Kiai Asror) Kedungcangkring, putra pertama Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang sekaligus tokoh pendiri Masjid Jami’ Al-Asror Kedungcangkring, Pakisrejo, Srengat.
Lalu Syaikh Hasan Mujahid (Mbah Kiai Hasan Mujahid) menantu Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang sekaligus tokoh pendiri Pesantren Mbrebesmili.
Diberi nama Mbrebesmili karena masjid dan pesantren yang dulunya berada di timur makam sering keluar air secara terus menerus (mbrebes mili) sehingga akhirnya bangunan tersebut dipindah ke atas.
Lalu ada beberapa tokoh sesepuh seperti Mbah Imam Kastawi, Mbah Imam Nawawi, Mbah Abdul Alim, Mbah Munasir yang diperkirakan berasal dari Mataraman.
Sementara itu, Slamet, salah satu keturunan dari Syaikh Abdullah Sya’ban menuturkan, Mbrebesmili Santren ini dulunya merupakan basis perjuangan pahlawan bangsa dan agama sejak masa Nyi Ageng Serang, perjuangan Pangeran Diponegoro, sampai beberapa generasi selanjutnya.
Saat ini, lanjut Pria 64 tahun, Mbrebesmili mengadakan pengaosan rutin setiap malam Jum’at Legi, malam Rabu Legi, dan malam Kamis Pahing.
Pengajian yang digelar rutin tersebut memiliki jemaah dari berbagai daerah. “Kalau peziarah banyak dari luar kota. jemaah yang ngaji juga ada yang dari Malang, Surabaya, Pasuruan,” jelasnya. (mg1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila