Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Simak Sejarah Masjid Darul Kurmain di Blitar, Dua Pohon Ini Jadi Penanda Didirikan Pengikut Pangeran Diponegoro

Mohammad Syafi'uddin • Rabu, 27 Maret 2024 | 18:20 WIB

 

SIMPAN SEJARAH: Masjid Darul Kurmain di Nglegok yang mengalami renovasi. Dua pohon sawo besar menjadi ciri khas
SIMPAN SEJARAH: Masjid Darul Kurmain di Nglegok yang mengalami renovasi. Dua pohon sawo besar menjadi ciri khas

BLITAR - Masjid Darul Kurmain yang terletak di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, ternyata menyimpan sejarah yang tak tergantikan.

Masjid yang diperkirakan berdiri sejak kisaran 1825-1830 ini didirikan oleh KH Imam Kurmain yang berasal dari Bagelan, Jawa Tengah.

“Ya, terkait sejarah pasti pembangunan masjid itu kapan, kami belum bisa memperkirakan. Kemungkinan antara tahun 1825-1830. Ini berdasarkan adanya petilasan yang menjadi ciri khas Masjid Diponegoro,” ujar bendahara masjid sekaligus keturunan dari KH Imam Kurmain, Andi Setiawan, kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Andi menjelaskan, dulu masjid ini memiliki dua pohon sawo di utara masjid dan di selatan sumur. Keberadaan pohon sawo tersebut merupakan ciri khas pengikut Pangeran Diponegoro yang kabur ke Jawa Timur dan mendirikan masjid.

Sebelum adanya perombakan, lanjut dia, masjid ini memliki ciri tembok yang sangat tebal. Bahkan, saat renovasi berlangsung, batu bata yang digunakan cukup tebal dan setiap sisi masjid selalu dilapisi dua batu bata.

Selain itu, juga memiliki ruang kamar di masing-masing sisi. Baik di sisi selatan dan sisi utara. Kini ruangan itu telah dibongkar dan dijadikan satu dengan bangunan utama sejak 20 Desember 2021.

Walaupun mengalami renovasi, masjid ini tetap mengedepankan ciri khas utama yakni adanya empat pilar di tengah-tengah masjid.

Ciri ini menjadi peninggalan yang tidak bisa tergantikan. Mengingat pula, dua pohon sawo yang berdiri tegap di selatan masjid sudah tidak ada. Serta sumur peninggalan sudah tertutupi dapur masjid.

“Bangunanya seperti sekarang ini. Luasnya sama. Desainnya juga tetap seperti awal, tidak berubah. Ciri khas empat pilar di dalamnya itu tidak pernah diubah. Cuma yang beda ada pada genting, tembok, dan reng atap. Dulu untuk reng terbuat dari bambu,” jelasnya.

Perubahan yang paling mencolok adalah penambahan tinggi Masjid Darul Kurmain. Peninggian masjid ini dilakukan lantaran kondisi masjid sudah tidak memungkinkan.

Selain terkait dihapusnya kamar itu, juga karena area masjid yang kurang luas sehingga tidak mampu menampung jemaah.

Masjid ini memiliki lebar 18 meter dan panjang sekitar 15 meter. Jumlah ini hanya luas utama masjid, belum termasuk teras yang ada. Selayaknya masjid peninggalan zaman dulu, hampir selalu ditemukan makam di sampingnya.

Pun Masjid Darul Kurmain, di sisi baratnya terdapat puluhan makam yang diduga merupakan makam keluarga KH Imam Kurmain. (mg2/c1/sub)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#diponegoro #sejarah #Kabupaten Blitar #masjid