BLITAR - Ribuan perempuan di Kota Blitar menyandang status perempuan kepala keluarga alias Pekka. Banyak faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Di antaranya, karena masalah kesehatan hingga perceraian.
Berdasarkan aplikasi SIMPEDAK, jumlah penduduk Kota Blitar tercatat sebanyak 159.781 jiwa. Dari jumlah tersebut, 80.130 jiwa di antaranya merupakan penduduk perempuan.
Sebagian dari penduduk perempuan tersebut harus menyandang status kepala rumah tangga.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3A2KB) Parminto mengatakan, berdasarkan data tahun 2023 ada 12.724 perempuan menyandang status Pekka.
Jumlah tersebut tersebar di tiga kecamatan di Kota Blitar. Perinciannya, 3.730 jiwa di Kecamatan Kepanjenkidul, 4.368 jiwa di Kecamatan Sukorejo, dan 4.616 jiwa di Kecamatan Sananwetan.
"Memang jumlah Pekka tahun lalu cukup banyak. Sebanyak 12.714 perempuan," katanya kepada Jawa Pos Radar Blitar, kemarin (26/3).
Parminto membeberkan, perempuan dengan status Pekka disematkan lantaran mereka sudah tidak memiliki suami alias janda.
Selain itu, juga karena faktor kesehatan seperti suami sedang sakit sehingga tidak bisa bekerja. Hal itu mengharuskan istri menjadi tulang punggung keluarga.
"Faktor lainnya juga bisa karena perceraian atau suaminya meninggal. Kondisi tersebut mengakibatkan mereka menjadi sosok kepala keluarga," bebernya.
DP3A2KB, kata Parminto, sudah menyiapkan beberapa program untuk mengatasi kondisi tersebut. Program yang digalakkan berupa pembinaan maupun pelatihan kewirausahaan.
Melalui program kegiatan itu, perempuan diharapkan bisa lebih berdaya dan memiliki penghasilan tambahan. Tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup perempuan khususnya kepala rumah tangga agar lebih baik.
Baca Juga: DP3AP2KB Kota Blitar Sukses Gelar Wisuda SOTH, Strategi Tekan Stunting lewat Pendidikan Pola Asuh
Pembinaan maupun pelatihan tersebut dikemas melalui program sekolah perempuan alias Sekoper.
Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kreativitas perempuan. Harapannya mampu membantu perekonomian keluarga.
Lewat sejumlah pelatihan, Pekka bisa termotivasi dan tetap semangat untuk membangun keluarga berkualitas.
Pihaknya memastikan hak dan kewajiban Pekka di Kota Blitar tetap terpenuhi. Dengan begitu, mereka tetap semangat untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Intinya perlu dukungan dan kolaborasi dari semua pihak untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan Pekka," tandasnya. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila