BLITAR -Masjid Syuhada’ Haji di Kota Blitar menyimpan sejarah insiden seputar perjalanan calon jemaah haji yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat DC-8 Martin Air di Kolombo, Sri Lanka, pada 1974 silam.
Sejarah mencatat, ratusan penumpang calon jemaah haji mayoritas dari Blitar meninggal dunia dalam peristiwa itu.
Di sebelah utara bangunan masjid ini kemudian dibangun monumen pesawat untuk mengenang peristiwa tersebut.
“Calon jemaah haji yang meninggal dunia saat itu sejumlah 182 orang. Sebanyak 111 di antaranya merupakan warga Kota/ Kabupaten Blitar,” kata Ketua Yayasan Syuhada Haji, Zaenal Efendi.
Diketahui, pada 1974 secara perdana jemaah haji bertolak ke Tanah Suci via jalur udara. Saat itu memang masa transisi pemberangkatan haji dari sebelumnya memakai kapal laut, menjadi pesawat.
Tak pelak memori memilukan itu tetap membekas meskipun sudah berlalu hampir 50 tahun lamanya.
“Calon jemaah calon haji yang ada di daftar ini, merupakan yang pertama menggunakan pesawat terbang. Biayanya sekira Rp 546 ribu pada 1 Desember 1974,” kenangnya sambil menunjukkan daftar jemaah yang gugur.
Dia pun menceritakan sejenak persiapan keberangkatan jemaah hingga kabar duka itu muncul.
Jemaah semula bertolak menuju Lapangan Udara Juanda, Surabaya. Kemudian panitia pemberangkatan calon jemaah haji Jawa Timur menginformasikan bahwa jemaah akan terbang menggunakan pesawat dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia pada 4 Desember 1974.
Namun, pada hari keberangkatan pihak maskapai menggunakan pesawat DC-8 Martin Air dari Belanda.
Dengan rute tujuan Jeddah, Makkah; kemudian transit di Kolombo, Sri Lanka. Pesawat yang saat itu dikemudikan oleh Kapten Penerbang Lamme pun akhirnya lepas landas.
Pesawat dijadwalkan mendarat di lapangan terbang Bandara Naike, Kolombo. Terbang di atas Bukit Tujuh Dara atau Sapta Kanya Hill’s, seluruh penumpang dan awak pesawat melintasi medan yang ganas dengan bukit dan jurang curam.
Cuaca buruk mengganggu penerbangan. Selepas Magrib, jemaah dan awak dirundung malapetaka.
Pesawat menghantam puncak bukit yang diyakini sebagai tempat pertama turunnya Nabi Adam.
“Pesawat hancur di ketinggian 4.300 kaki. Saat itu dipastikan sudah tidak ada orang yang selamat,” katanya.
Esoknya, lanjut Zaenal, reruntuhan pesawat mulai terdeteksi. Warga setempat dan petugas menemukan potongan tubuh jenazah, dan disemayamkan secara syariat Islam.
Di bawah Bukit Tujuh Dara tersebut kemudian dibangun sebuah situs bertuliskan Indonesian Hajj Memorial.
Sepekan setelah insiden berlalu, tepatnya 12 Desember 1974 salah satu jenazah dikirim menggunakan pesawat Garuda, dari Kolombo, Sri Lanka di Lapangan Udara Juanda, Surabaya.
Dihadiri seluruh perwakilan keluarga korban, jenazah tersebut dimakamkan di area Masjid Ampel, Surabaya.
Atas peristiwa itu, Menteri Agama yang saat itu dijabat Prof Dr H. Mukti Ali menyematkan gelar Syuhada’ Haji pada korban calon jemaah haji yang meninggal dunia dalam perjalanan ke Tanah Suci.
“Setiap tahun kami selalu memperingati peristiwa itu, dengan membaca tahlil dan doa bersama. Mari di bulan Ramadan yang mulia ini, kita tingkatkan keimanan kepada Sang Khalik,” paparnya.
Salah satu daya tarik masjid ini terletak pada monumen yayasan Syuhada Haji di sebelah utara bangunan.
Baca Juga: Meresahkan Masyarakat, Polisi Amankan Dua Kendaraan Ronda Sahur Sound Horeg di Kabupaten Blitar
Miniatur replika pesawat DC-8 Martin Air menghadap ke barat laut itu dibangun dan diresmikan Gubernur Jawa Timur, Soenandar Prijosoedarmo pada 1977.
Ikon itu difungsikan untuk mengenang wafatnya ratusan jemaah yang berpulang. (luk/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila