BLITAR - Pada fase “kepemimpinan” Djoko Kandung atau Adipati Blitar III, yakni sekitar tahun 1723 dan di bawah Kerajaan Kartasura Hadiningrat pimpinan Raja Amangkurat, Blitar jatuh ke tangan penjajah Belanda.
Kondisi itu berlangsung dalam suasana serba mencekam karena memakan banyak korban, baik nyawa maupun harta.
Akhirnya, rakyat Blitar bersatu padu melakukan berbagai bentuk perlawanan.
Hery Setiabudi dalam bukunya Blitar Tempo Doloe mencatat, sejarah Blitar pada titik nol tidak lepas sebagai riwayat sebuah negara di zaman kerajaan Jawa kuno.
Sebelum 1292, sekitar zaman pra-Majapahit, daerah Blitar tidak dapat ditemukan keberadaannya. Nama Blitar tidak ada dalam pokok bahasan zaman pra- Majapahit.
Namun, identifikasi beberapa daerah yang tersebar di Blitar menunjukkan bahwa daerah tersebut menjadi sketsa peradaban sebagai bagian dari pranata masa pemerintahan Jawa kuno.
Indentifikasi itu ada dalam prasasti Kinwu, Prasasti Padeglan, dan Prasasti Panumbangan.
Pada zaman Kerajaan Jawa Kuno Majapahit yang dipimpin oleh Raja Jayanagara (1294-1328), yang merupakan raja kedua dengan masa pemerintahan mulai 1309-1328, itu dikenal sebagai masa pergolakan paling menggemparkan di awal Kerajaan Majapahit.
Menurut pendapat dari beberapa peneliti, Blitar dianggap memiliki peranan penting sehingga mendapat status wilayah berupa Sima.
Yakni, sebidang lahan produktif berupa sawah, kebun, hingga desa, yang memiliki status bebas pajak.
Hal itu dihadiahkan oleh penguasa setempat kepada warga wilayah tersebut.
Dalam kakawin Nagarakretagama karya Empu Prapanca tahun 1365, nama Blitar ditulis dengan Balitar disebutkan lima kali sebagai sebuah tempat atau daerah.
Dengan begitu, daerah yang ditetapkan sebagai Sima dalam prasasti Balitar I memiliki kemungkinan dengan nama lain.
Berdasarkan pertimbangan dalam peradaban zaman Kerajaan Jawa Kuno, bentuk-bentuk Sima di Blitar cukup banyak dan menyebar di berbagai wilayah.
Wilayah kekuasaan raja daerah dibagi menjadi beberapa tingkatan. Para penguasa (Bhre) membawahi beberapa Juru, Juru membawahi Kuwu, Kuwu membawahi Buyut, dan Buyut membawahi Rama (Sima), dan Rama membawahi Thani setingkat desa.
Jika Balitar dianggap sebagai Sima, maka dalam periode ini Blitar termasuk dalam kategori yang cukup unik.
Dalam Nagarakartagama, menyebutkan bahwa Balitar sebagai tempat tujuan khusus bagi raja untuk berkontemplasi, sebagai salah satu destinasi utama yang selalu dikunjungi rama beserta rombongan, dan sebagai pusara leluhur sang raja.
Dengan begitu, dapat ditarik hipotesis bahwa Balitar juga sebagai pusat kegiatan keagamaan, seperti di Panataran yang bernuansa agama asli leluhur.
Di wilayah Balitar, yakni wilayah Palah (Panataran), justru kegiatan lokal terkait keagamaan mendapatkan tempat terhormat
bagi Raja Hayam Wuruk. Dewa lokal yang diberi nama Hyan Acalapati juga dilakukan upacara kenegaraan secara resmi dan terjadwal oleh penguasa Kerajaan Jawa Kuno Majapahit.
Secara protokoler membuat penghormatan kepada pemangku Palah yang memiliki status Bharata. (*/ink/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila