Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menengok Musala Asy’ari, Rumah Ibadah Tertua di Kelurahan Bence Blitar, Pernah Jadi Tempat Istirahat Tentara PETA

Fajar Rahmad Ali Wardana • Sabtu, 30 Maret 2024 | 15:05 WIB
MASIH KOKOH: Kondisi bangunan musala yang belum tersentuh renovasi secara menyeluruh. Musala tetap difungsikan untuk salat berjemaah setiap hari
MASIH KOKOH: Kondisi bangunan musala yang belum tersentuh renovasi secara menyeluruh. Musala tetap difungsikan untuk salat berjemaah setiap hari

BLITAR - Bumi Penataran ternyata memiliki musala yang konon berusia paling tua. Adalah Musala Asy’ari, yang lokasinya berada di Lingkungan Bence II, Kelurahan Bence, Kecamatan Garum. 

Bangunannya masih kokoh dan setiap hari belasan jemaah melakukan ibadah salat di tempat tersebut.

Mencari Musala Asy’ari ini cukup mudah. Dari SPBU Garum ke utara yakni Jalan Ash Ngari, kemudian 50 meter ke timur.

Rumah ibadah itu menghadap ke rumah Muhammad Nasir Hariyanto, 66, yang merupakan cucu dari Mbah Asy’ari.

“Saya masih ingat ketika mbah Asy’ari meninggal dunia pada 1967. Musala ini memang sudah lama ada. Kalau tidak salah, musala ini dibangun sekitar 1920-an oleh Mbah Asy’ari.

Memang cukup tua dibanding musala lain di Blitar,” kata Hariyanto kepada Jawa Pos Radar Blitar ketika ditemui di musala.

Dia melanjutkan, Muhammad Asy’ari mendirikan musala itu tentu untuk mengawali peradaban Islam di kawasan Kecamatan Garum.

Bahkan, musala itu juga menjadi tempat istirahat tentara PETA dalam menghadapi prajurit Jepang.

Musala ini dikelola oleh keluarga keturunan Asyari. Sejak awal berdiri, tidak hanya anggota keluarganya yang beribadah di musala tersebut, tetapi juga warga Lingkungan Bence II.

Selain itu, bangunan tua ini sudah beberapa kali mengalami renovasi dan pergantian perabotan. Terakhir 3 tahun lalu, Hariyanto mengganti genting teras dengan kanopi.

Musala Asy’ari cukup ramai ketika zaman dahulu. Namun, saat ini sudah banyak berdiri masjid dan musala di lingkungan sekitar. 

Meski begitu, tetap ada jemaah di musala tertua itu. Setiap harinya, ada belasan orang yang menjadi jemaah musala tersebut.

Jumlah jemaah memang terbatas karena kondisi ruangan musala yang hanya cukup dua saf. Maksimal jemaah yang bisa beribadah yakni 20 orang. 

”Selain untuk salat fardu berjemaah, Musala Asy’ari juga dijadikan tempat mengaji. Beberapa tahun lalu sempat ramai.

Sejak dibangun masjid yang tidak jauh dari sini, anak yang mengaji jadi berkurang,” ungkapnya.

Ketika Ramadan, Musala Asy’ari ini juga digunakan untuk salat Tarawih.

Namun, khusus digunakan untuk jemaah putri, sedangkan jemaah laki-laki menempati musala yang berada di tepi jalan raya depan SPBU Bence. (jar/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Tentara PETA #Kecamatan Garum #ibadah salat #musala