Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Masjid Al-Faqih di Kanigoro Blitar, Tempat Persembunyian Tentara Indonesia Lawan Penjajah

Mohammad Syafi'uddin • Minggu, 31 Maret 2024 | 18:14 WIB
BERSEJARAH: Masjid Al-Faqih di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia sebelum merdeka.
BERSEJARAH: Masjid Al-Faqih di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, menjadi saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia sebelum merdeka.

BLITAR - Masjid Al-Faqih di Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro, menjadi salah satu masjid tua di Kabupaten Blitar.

Berdiri tahun 1892, menjadikan tempat ibadah umat Islam itu sebagai saksi bisu atas perjuangan Indonesia.

“SAYA kurang tahu detailnya (sejarah), karena waktu itu masih kecil. Namun dari cerita bapak saya, dulu di sini belum ada masjid. Baru kakek saya yang babat dan mendirikan masjid,” ujar cucu pendiri masjid, KH Faqih, Siti Talbiyah, Sabtu (30/3).

Semenjak berdiri, masjid ini masih satu kali dipugar. Itu pun karena bangunan sebelumnya yang terbuat dari gedek sudah tidak mampu bertahan.

Akhirnya diputuskan untuk renovasi dan diganti dengan dinding tembok.

Perempuan berusia 73 tahun itu menjelaskan bahwa kakeknya, KH Faqih, berasal dari Bagelan, Jawa Tengah.

Dari tanah kelahirannya ini, KH Faqih merantau untuk memperdalam ilmu agama sampai akhirnya tiba di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro.

“Terakhir perjalanan itu di salah satu pondok pesantren (ponpes) lawas di Jatinom. Di ponpes milik Kiai Imam Bukhori, perintis kemerdekaan,” ujarnya.

Setelah lama mengabdi di ponpes tersebut, KH Faqih akhirnya diangkat sebagai anak dan diutus untuk babat di Dukuh Bandung, Desa Tlogo, Kecamatan Kanigoro.

“Soalnya di sini dulu sebelum didirikan masjid oleh kakek, tidak ada manusia yang kuat tinggal.

Setelah mbah menetap di sini, baru semakin banyak masyarakat yang ikut berkumpul,” ujarnya.

Baca Juga: Simak Sejarah Masjid Darul Kurmain di Blitar, Dua Pohon Ini Jadi Penanda Didirikan Pengikut Pangeran Diponegoro

Ternyata, masjid yang sudah satu abad lebih berdiri ini memiliki cerita yang berkaitan dengan penjajahan.

“Saat itu saya masih kecil, tokoh-tokoh agama banyak diungsikan. Termasuk mbah saya, dia diungsikan ke tetangga desa dan mengenakan nama samaran. Pokok dibuat jelek agar tidak ketahuan penjajah,” ujarnya.

Tidak hanya itu, masjid ini juga menjadi saksi sejarah saat Indonesia merdeka, tapi Belanda masih belum rela melepas negara jajahannya.

Saat itu, masjid ini menjadi salah satu lokasi persembuyian untuk pergerakan tentara Indonesia. 

“Termasuk rumah peninggalan mbah yang saya tinggali ini.

Karena rumah dan masjid ini dekat dan lumayan masuk dari jalan utama, di sini itu jadi markas sementara para tentara yang menyamar.

Seingat saya, tentara Indonesia tinggal beberapa bulan sampai akhirnya dipindahtugaskan,” ungkapnya.

Selain menjadi salah satu masjid lawas di Kabupaten Blitar, masjid ini ternyata juga memiliki ciri khas yang beda seperti adanya pohon sawo dan makam di belakang masjid.

“Dulu pohon sawonya itu ada banyak, namun sebagian dipotong dan tinggal satu yang sampai sekarang masih berdiri,” ungkapnya.

Terkait makam yang berada di belakang masjid, itu merupakan makam keluarga. (mg2/c1/din)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#sejarah #Kabupaten Blitar #masjid #kanigoro