Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Menyelami Jejak Blitar Tempo Dulu (2), Pernah Jadi Daerah Sepi dan Hampir Punah, Simak Penjelasan Lengkap Disini

M. Subchan Abdullah • Minggu, 31 Maret 2024 | 21:00 WIB
LUAS: Wajah alun-alun Blitar zaman kolonial. Kini tempat tersebut berlokasi di utara Kantor Wali Kota Blitar telah berubah menjad pusat keramaian masyarakat.
LUAS: Wajah alun-alun Blitar zaman kolonial. Kini tempat tersebut berlokasi di utara Kantor Wali Kota Blitar telah berubah menjad pusat keramaian masyarakat.

BLITAR - Sejak runtuhnya kerajaan Jawa Kuno, Majapahit, sampai dengan munculnya kerajaan Jawa Tradisional bercorak Islam.

Keberlangsungan Sima Balitar, peradaban Candi Aria Balitar atau perdikan kuno di Blitar dan beberapa Sima lain di wilayah ini, tidak banyak data yang mengungkap. 

“Sampai di sini bisa ditarik hipotesis awal bahwa daerah ini ikut memudar seiring dengan habisnya periode keemasan kerajaan Jawa Kuno, Majapahit,” tulis Hery Setiabudi dalam bukunya Blitar Tempo Doeloe.

Dalam analisisnya tentang kemunduran kerajaan Jawa Kuno, Hery mencatat tiga kemungkinan besar yang membuat peradaban Aria Balitar dan peradaban beragam Sima di wilayah Blitar memudar.

Kemungkinan pertama, adanya efek domino dari runtuhnya pusat kekuasaan kerajaan Jawa Kuno.

Kedua, adanya peristiwa besar seperti bencana alam, letusan Gunung Kelud, dan sejenisnya. 

Ketiga, adanya kekuatan internal yang mencari induk atau sebaliknya kekuataan internal yang mengalami upaya restorasi ke arah masa lalu.

Kemungkinan pertama, tulis Hery, bisa sangat dominan meskipun kadar kekuatannya masih bisa diragukan.

Mengingat, aspek penggerak kehidupan beragama, pemegang teguh pranata atau pemangku wilayah dan kekuasaan, sudah tidak lagi memiliki kekuataan karena berlarut-larutnya konflik tingkat pusat.

Selama ini, menurut Hery, Balitar identik dengan kegiatan kenegaraan, baik yang bersifat rutin tahunan maupun kehendak raja secara langsung.

Sebab, penerusnya tengah dilanda konflik agenda dan kegiatan yang demikian mulai berkurang dan bisa saja berhenti. 

Kemudian pada kemungkinan kedua, Hery mencatat, kadar penyebabnya tidak begitu signifikan.

Sejak zaman sebelum kerajaan Jawa Kuno mencapai puncak kejayaan seperti periode Majapahit, masyarakat Blitar senantiasa terbiasa dengan bencana alam seperti letusan Gunung Kelud. 

“Kemungkinan ini bisa saja terjadi,” kata Hery.Beranjak kemungkinan ketiga, bisa dipastikan sangat dominan dengan kadar tinggi.

Kepercayaan lokal atau agama asli yang telah mendapat tempat, bahkan negara pun hadir untuk melestarikannya.

Maka, ketika kekuasaan negara runtuh, para pemangku dan pewaris agama asli yang umurnya lebih tua ketimbang negara secara harfiah akan bertahan untuk melindunginya. 

Jika kekuatan pengubah dari luar sangat kuat, maka jalan keluarnya adalah menghindari atau bahkan menutup diri secara alamiah. 

Berdasarkan tiga kemungkinan di atas, maka bisa dipastikan di ujung dari perkembangan selanjutnya menjadikan peradaban Aria. Balitar perlahan-lahan tenggelam dan punah.

Bahwa tidak salah jika De Graaf (Hermanus Johannes de Graaf, Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senopati; volume 3 dari seri terjemahan Javanologi).

Mengatakan bahwa Blitar dalam periode kerajaan Jawa Tradisional, terutama pada awal berdirinya Mataram Islam, merupakan daerah yang sepi dan menjadi daerah yang tidak ada artinya lagi. 

Seiring perubahan penyebutan dari Balitar menjadi Blitar, maka Blitar memasuki babak baru di bawah kekuasaan kerajaan Jawa Tradisional.

Setidaknya, Blitar menjadi simbol kemenangan para suksesor peradaban. Menurut catatan Raffles (Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, 1830), 

dalam periode ini Blitar dan Srengat masuk dalam wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. 

Hipotesis yang kemudian dapat diambil, Blitar kini berubah menjadi semacam desa biasa, menjadi perdikan di wilayah Monconegoro atau Mancanegara Timur.

Menurut Koentjaraningrat, Blitar dan daerah pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masih memeluk Hindu-Buddha dinamakan kerajaan-kerajaan boneka Majapahit di daerah. 

Dalam perubahan tatanan baru dari kerajaan Jawa Kuno menjadi kerajaan Jawa Tradisional, perkembangan Blitar boleh dikata sangat lamban dan berlangsung dalam waktu cukup lama. 

Pergeseran pusat kekuasaan di Blitar selanjutnya mengarah ke barat. Tempat kerajaan Jawa Tradisional mengukuhkan sebuah kabupaten tradisional bernama Sarengat. 

Menurut Willem G.J. Remmelin, Sarengat merupakan kabupaten bawahan yang menginduk pada Kabupaten Kediri.

Kala itu, Kediri merupakan kabupaten besar ketiga di Mancanegara Timur. Dan pada era kejayaan Danurejo I, Sarengat Blitar dipimpin oleh Demang Ranuita.

Begitu Danurejo I mengalami masa-masa suram, Demang Ranuita dicopot dan Sarengat serta Blitar diberikan kepada Tumenggung Mataun dan Jipang. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#majapahit #sejarah #blitar #jawa kuno #tempoe doeloe