BLITAR - Nelayan Bumi Penataran saat ini pilih lempar jangkar ketimbang melaut. Alasannya, jelang peralihan musim, ikan cenderung berada di dasar laut sehingga sulit ditangkap. Selain perawatan kapal, sebagian nelayan memanfaatkan momen ini untuk memancing dan berburu lobster.
Nelayan Desa Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Tawar mengungkapkan, ikan menurun selama tiga bulan terakhir. Karena itu, dia memilih untuk berburu udang lobster.
“Puasa ini hanya perahu kecil-kecil yang aktif, perahu besar off. Ini memang karena siklus musiman, soalnya musim kemarau pendek seperti ini itu jarang ikan yang naik ke permukaan. Makanya banyak perahu besar yang memilih istirahat,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pendapatan dari melaut paling banyak saat musim kemarau. Dia mengungkapkan bahwa kejadian ini sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.
“Itu sudah tiga bulan terakhir ini. Walaupun begitu, harga ikan masih stabil,” lanjutnya,
Menurutnya, harga ikan tidak ditentukan dari banyak sedikitnya hasil tangkapan nelayan, tapi stok ikan di pasaran. Makanya hingga sekarang harga ikan masih stabil.
“Harga ikan itu tidak tentu, kadang naik kadang turun. Kalau seperti sekarang ini, harga ikan itu banyak naiknya. Tapi kalau sudah musim itu sering naik turun harganya,” jelasnya.
Ikan yang paling mahal ialah ikan tenggiri, kakap merah, kerapu, dan tuna dengan kisaran harga mulai Rp 50 ribu sampai Rp 90 ribu diukur per kilogram. Kemudian untuk ikan layur dibanderol Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu.
Tawar mengungkapkan bahwa dia mampu memperoleh 1-2 ton saat kemarau. Namun, kini ikan yang diperoleh hanya sekadarnya, bahkan tidak ada setengah dari pendapatan ketika musim kemarau.
Untuk menyiasati keadaan ini, dia memilih untuk berburu udang lobster karena harga yang ditawarkan lebih banyak. Udang lobster dihargai Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu per kilogram.
“Itu tergantung rezeki, yang penting bahan bakar banyak, penghasilan akan lebih banyak. Saya tidak bisa mengira-ngira. Makanya ketika musim seperti ini, saya memilih berburu lobster, soalnya di sini harga yang paling besar itu lobster,” ungkapnya.
Seorang anak buah kapal (ABK) nelayan, Hidayat, menjelaskan bahwa dia sudah tidak lagi melaut sekitar empat bulan terakhir. Perahu yang biasa digunakan untuk menangkap ikan, kini sedang perawatan.
“Hasil ABK itu tidak tentu. Kalua tidak bekerja, tidak dapat pendapatan. Kalau musim tangkap itu, kami biasa bagi hasil. Makanya kalau enggak melaut, enggak dapat apa-apa,” ujar pria asal Wlingi tersebut. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila