KABUPATEN BLITAR - Masjid Nurul Hidayah di Dusun Modangan Lor, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok memiliki arsitektur yang beda dari masjid yang lain. Ya, bangunan yang mulai dibangun sejak 2021 ini menitikkan pada gaya arsitektur minimalis model Jawa tradisional.
Masjid berdesain bangunan khas tradisional Jawa itulah yang ingin ditonjolkan pada masjid ini. Selain bakal lebih memberikan makna dan nyaman bagi warga yang sedang beribadah, juga lebih terkesan adem dan lebih simpel.
Pengurus masjid Nurul Hidayah, Masruri mengaku, bahwa keputusan gaya arsitektur dan model masjid ini merupakan kesepakatan bersama salah satu tokoh dusun setempat, Marsuji. Akhirnya muncullah ide untuk membuat masjid dengan gaya yang berbeda, dengan filosofi bahwa modelnya akan lekang sepanjang zaman. “Kami tidak ingin bangunan masjid ini hanya bagus dalam beberapa tahun, tapi bisa seterusnya bisa dinikmati masyarakat,” bebernya.
Dalam pembuatan konsep, jelas Masruri, desain yang digunakan tidak memanfaatkan seorang arsitek. Sehingga itu murni merupakan hasil jerih payah mereka dengan mencari referensi di internet. Bermodal hal ini dan diskusi, akhirnya diputuskan model klasik agar tidak mudah tergerus oleh zaman.
“Pembangunan masjid ini itu di atas tanah wakaf pemberian pak Marjumi. Kami tidak ingin masjid ini hanya bagus lima atau 10 tahun kedepan. Makanya kita buat klasik sekalian agar tetap bagus,” ungkapnya.
Menurut dia, walaupun masjid ini terlihat kecil. Untuk pembangunan dan pembuatan ukirannya itu tidak gampang. Untuk gawang pintu kelas modern itu bisa menghabiskan Rp 30 juta. Untuk meminimalisir biaya ini, kayu yang digunakan merupakan kayu jati yang diwakafkan ke masjid. Sedangkan untuk pembiyaan tukang ukirnya denga jumlah tiga gawang membutuhklan biaya sebesar Rp 5 juta. “Itu bisa lebih kalau ini bukan untuk masjid,” ujarnya.
Luas bangunan yang hanya sebelas meter persegi dengan berbagai ukiran dan batu bata kotak khas Jawa memberikan sensasi clasik yang mengikat. Ternyata, untuk pembangunan masjid ini tidak mudah. Batu bata yang digunakan diambil dari berbagai lokasi seperti Wonogiri dan Trenggalek. “Walaupun kecil anggaran yang dibutuhkan untuk membangun masjid ini tidak sedikit. Bahkan saya perkirakan dengan uang yang ada itu sudah sisa jika digunakan untuk membangun masjid modren,” terangnya. (mg2/ady)
Editor : Doni Setiawan