BLITAR - Berlokasi tidak jauh dari pasar Kademangan keselatan, masuk gang kecil di barat jalan hingga gapura bertuliskan musala Jami’atut Tholibin. Konon, musala ini menjadi saksi bisu perkembangan Islam khususnya Nahlatul Ulama (NU) di wilayah Kademangan.
Cucu pendiri musala sekaligus pengelola, Imam Chanafi menuturkan bahwa mushola ini merupakan bangunan yang cukup lama. Dimana musala ini menjadi tempat pengajian dan pusat berkumpulnya para ulama NU saat itu.
“Sebelum Mbah Yasin berdakwah pada sekitar tahun 1952, musala ini sudah berdiri. Bahkan NU juga sudah berdiri lama sekali, mungkin sekitar sepuluh tahunan.
Yang memperkenalkan NU di daerah ini itu tiga orang yakni Pak Mohammad Yasrip yang merupakan bapak saya, Mbah Anwar, Mbah Haji Ali Mahfud pada 1936,” jelasnya.
Informasi ini berdasarkan catatan tangan yang ditinggalkan oleh ayahnya yang sekaligus tokoh NU di Kademangan. Namun, di sayangkan pada 2004 lalu catatan ini hancur karena terkena banjir.
Sedangkan Mbah Yasin merupakan tokoh agama yang terkenal akan dakwahnya. Pada masa kecil tokoh kondang ini, musala ini sudah ada dan bahkan sering dijadikan tempat tidurnya saat kecil. “Makanya musala ini sudah tua sekali. Bahkan didirikan itu sebelum abad 19 –an oleh mbah Imam Syafi’I,” ungkapnya.
Bangunan yang sudah di pugar dua kali ini memiliki peninggalan yang diduga memiliki hubungan dengan pengikut Pangeran Diponegoro.
Dugaan ini ditandai dengan adanya pohon sawo yang ada di depan musala dan sumur yang ada di selatan bangunan.
“Secara persis bagaimana sejarah pembangunan musala ini, saya kurang tahu. Namun dari dulu memang ada ciri-ciri yang mencerminkan peninggalan pengikut Pangeran Diponegoro.
Seperti disini itu ada banyak pohon sawonya, sekarang tinggal satu yang lain itu sudah roboh,” jelasnya.
Baca Juga: Melihat Masjid Nurul Hidayah di Nglegok, Desain Klasik dan Tonjolkan Ukiran Jawa Tradisional
Dari pengakuanya, musala ini awalnya hanya memiliki lebar lima meter. Namun direnovasi ulang pada tahun 1980, kemudian direnovasi lagi itu pada tahun 2020 dengan menyisakan beberapa ciri khas lama. Seperti beberapa pintu teras yang berbentuk setengah melengkung dan tembok yang tebal.
“Namun ini rencananya akan saya perlebar lagi, khususnya teras depan. Soalnya ketika salat ied, luas yang ada ini masih kurang. Soalnya ada sekitar 150 jamaah yang rutin salat disini,” terangnya. (mg2/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila