Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Masjid di Blitar Ini Jadi Sejarah Penyebaran Islam di Desa Kuningan, Ukiran dan Joglo Jadi Petunjuk

Mohammad Syafi'uddin • Jumat, 5 April 2024 | 21:05 WIB
BERSEJARAH: Tampak Masjid Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, memiliki sejarah kental dengan Islam.
BERSEJARAH: Tampak Masjid Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, memiliki sejarah kental dengan Islam.

BLITAR - Kompleks Masjid Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar memiliki sejarah kental dengan penyebaran Islam di Blitar Raya.

Itu lantaran bangunan tersebut diperkirakan sudah berusia ratusan tahun dan dipercaya jadi yang tertua di kabupaten ini.

Nah, ketika memasuki kompleks bangunan yang masih terlihat banyak model kuno ini sangatlah beda. Dari luar tampak ada joglo panggung dan ukiran-ukiran kayu berbahasa Arab serta ornamen lain.

“Dulu bangunan ini (joglo) merupakan pondok (tempat ngaji) dan di sebelah baratnya ada masjid,” kata juru kunci kompleks Masjid Nurul Huda, Kusnudin, Rabu (3/4/2024).

Dia mengaku, berdasarkan berbagai bukti di lokasi,  masjid ini dibangun sekitar tahun abad ke-18 oleh Syeh Abu Mansyur dari Jawa Tengah.

“Kalau secara pasti sejarahnya perlu detail. Mungkin dari keturunan pendiri masjid lebih mengetahui,” tandasnya.

Dari berbagai sumber, kompleks masjid ini terdiri dari tempat pengambilan air wudu, pondok joglo panggung, makam, serta bangunan utama masjid.

Jika melihat kondisi di lapangan sudah tersusun secara rapi. Mulai dari tempat air wudu ada batu berjajar menuju ke pondok panggung. Batu berukuran besar sebagai pijakan kaki pun terlihat masih asli.

Jika sudah mengambil air wudu, maka bisa berjalan melawati jajaran batu ke ponpes atau masjid. Jika masuk ke ponpes berupa joglo panggung ini, bangunan masih berupa kayu dengan ukiran yang menarik.

Dinding dari joglo masih berupa anyaman bambu yang sudah dipermak. “Bangunan masih lawas, hingga kini masih digunakan untuk ngaji,” ungkapnya.

Jadi, dulu ketika selesai ngaji di ponpes, santri bisa jalan kaki ke sisi barat dengan jarak ke masjid sekitar 7 meteran.

Saat masuk ke dalam masjid, tiang-tiang penyangga terlihat kokoh serta dari kayu. “Kalau tiang ini masih asli,” katanya.

Selain tiang, ada mimbar yang usianya sangat tua. Hingga kini masih berdiri kokoh dan tidak lapuk. Itu merupakan bukti jika orang dahulu memiliki jiwa seni dan agama yang tinggi.

“Kalau kegiatan rutin untuk salat maupun ngaji, serta tempat berkumpul orang-orang yang ingin berziarah ke makam,” ungkapnya. (mg2/c1/din)

Baca Juga: Simak Sejarah Masjid Darul Kurmain di Blitar, Dua Pohon Ini Jadi Penanda Didirikan Pengikut Pangeran Diponegoro

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #kanigoro #Penyebaran Islam #masjid nurul huda