BLITAR - Tak pernah habis jika menggali sejarah dari Masjid Nurul Huda terletak di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar.
Di kompleks tempat ibadah umat Islam berusia ratusan tahun tersebut banyak sisi-sisi menarik.
Juru kunci kompleks Masjid Nurul Huda, Kusnudin mengatakan, jika di sekitar masjid ini dulu ditemukan banyak batu-batu kotak besar.
“Kita tidak tahu tempat ini dulu ada candi atau tidak, yang pasti banyak batu kuno,” ungkapnya.
Baca Juga: Masjid di Blitar Ini Jadi Sejarah Penyebaran Islam di Desa Kuningan, Ukiran dan Joglo Jadi Petunjuk
Dulu, lanjut dia, mungkin masih banyak orang Hindu sebelum Islam masuk ke Blitar. Lokasi masjid ini termasuk tertua untuk penyebaran agama Islam.
Sebagai bukti adanya penyebaran agama Islam di desa setempat ada pondok pesantren (ponpes) di kompleks masjid.
“Ponpes ini sudah tua, bangunan bentuk joglo. Namun ada sumber air atau sungai sebagai tempat membersihkan diri,” katanya.
Baca Juga: Melihat Masjid Nurul Hidayah di Nglegok, Desain Klasik dan Tonjolkan Ukiran Jawa Tradisional
Sumber air yang berada di sisi timur ponpes maupun masjid ini sangat berguna. Yakni sebagai tempat untuk membersihkan diri para santri sebelum mengikuti salat.
Sebelum di bangun lokasi menuju kolam kuno, bentuk jalan masih terbuat dari batu yang ditata. Agar santri tidak menginjak tanah ketika selesai wudlu.
Dari penuturan para sesepuh desa, jika selesai wudlu, santri ini mampir ke ponpes untuk mengaji serta mengamalkan salat di masjid.
Dia mengaku, keberadaan kolam tua ini bahkan menarik beberapa orang untuk melakukan mandi malam hari. Mereka percaya jika airnya bisa membuat awet muda. “Sumber air belum pernah surut,” katanya.
Hingga kini di sekitar masjid masih ada aktivitas untuk ngaji, salat, dan lainlain. “Islam harus dilestarikan generasi muda,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, kompleks Masjid Nurul Huda di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, memiliki sejarah kental dengan penyebaran Islam di Blitar Raya.
Itu lantaran bangunan tersebut diperkirakan sudah berusia ratusan tahun dan dipercaya jadi yang tertua di kabupaten ini.
Nah, ketika memasuki kompleks bangunan yang masih terlihat banyak model kuno ini sangatlah beda.
Dari luar tampak ada joglo panggung dan ukiran - ukiran kayu berbahasa Arab serta ornamen lain.
“Dulu bangunan ini (joglo) merupakan pondok (tempat ngaji) dan di sebelah baratnya ada masjid,” kata juru kunci kompleks Masjid Nurul Huda, Kusnudin, kemarin (3/4).
Dia mengaku, berdasarkan berbagai bukti di lokasi, masjid ini dibangun sekitar tahun abad ke-18 oleh Syeh Abu Mansyur dari Jawa Tengah.
“Kalau secara pasti sejarahnya perlu detail. Mungkin dari keturunan pendiri masjid lebih mengetahui,” tandasnya.
Dari berbagai sumber, kompleks masjid ini terdiri dari tempat pengambilan air wudu, pondok joglo panggung, makam, serta bangunan utama masjid. (mg2/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila