BLITAR - Hingga kini belum diketahui secara pasti kapan Masjid Baitul Muk’minin atau Masjid Tiban di Dusun Gembong, Desa Temenggung, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, ini dibangun.
Meski demikian, berdasarkan cerita turun-temurun dari warga setempat, masjid tersebut pertama kali ditemukan seorang ulama bernama Abdullah Islam.
“Dari cerita-cerita terdahulu, yang membangun adalah Abdullah Islam. Konon kayu-kayu di masjid ini diambil dari alas Maliran, Ponggok,” kata warga setempat, Asnawi, sabtu (6/4).
Jika dilihat dari depan, bangunan masjid sudah direnovasi. Menara puncak masih tampak bangunan asli.
Ada empat menara menjulang dengan ketinggian belasan meter di setiap sudut. Di setiap sudut masjid itu dirajah dengan tulisan arab.
Mulai dari kusen - kusennya, daun pintu, daun jendela, bahkan pilar, reng, dan usuk-usuknya.
Di empat menara, bagian bawahnya terdapat sumur tua. Bagian belakang bangunan juga berdiri menara setinggi sekitar 7 meter.
Menara-menara itu berbahan kayu jati. Menurut dia, air di sumur menara hingga kini masih bisa telihat. Namun karena kurang terawat sehingga perlu perhatian.
“Ini saya coba tutup pintu di bagian bawah menara, agar tidak dimasuki burung sriti,” tandasnya.
Bagian dalam masjid dibagi menjadi dua ruangan. Ruang depan dipakai untuk salat jemaah.
Bagian belakang ada ruag khusus yang dipakai untuk ziarah makam. Setiap pojok ruangan, ada empat tiang pancang besar.
Arsitektur joglo dengan bentuk atap limas tampak menyangga kuat ruangan yang terkesan gelap namun tenang.
Di tengah ruangan makam itu, sebuah tiang pancang kayu bersudut empat kokoh berdiri menjulang sampai atap.
Tiap sudut ada sebuah kayu berbentuk bulat dan penuh tulisan Arab berlafaz Allah.
Menurut dia, keberadaan masjid itu tak pernah jelas sejak tahun berapa. Tapi dari cerita warga, ketika zaman Belanda masih menduduki Indonesia, masjid itu sudah ada.
Dia menambahkan, ada cerita bahwa masjid ini digunakan untuk penganut sufi. Terlihat dari bangunan yang beda dengan lainnya.
Tulisan serta simbol-simbol di dinding maupun kayu memperkuat bukti tersebut.
“Ya kalau arti dari lambang-lambang itu belum tahu,” ujarnya.
Bentuk bangunan serupa memang ada di daerah lain, termasuk Tulungagung, Kediri, Jombang, dan lain-lain. Diperkirakan mereka memiliki hubungan secara tak langsung.
“Kalau di Tulungagung itu Pondok Menara (Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru) diperkirakan masih ada hubungan dengan pendiri masjid ini,” pungkasnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila