BLITAR - Momen Lebaran bisa menjadi ajang balas dendam setelah puasa sebulan penuh. Pola makan pun menjadi tak beraturan. Tidak memperhitungkan porsi, waktu, atau kalori yang masuk ke tubuh.
Padahal, makanan yang dikonsumsi belum tentu sehat dan seimbang. Pola makan yang sudah teratur selama bulan puasa bisa berubah total dalam sekejap.
Selama puasa, berat badan (BB) secara tidak langsung mengalami penurunan, sedangkan ketika hari raya dalam waktu satu sampai dua hari tiba-tiba bisa naik.
“Karena nyemil makanan yang kecil, tapi punya banyak kalori. Misalnya nastar dan kue-kue lain,” kata Ahli Gizi RSUD Mardi Waluyo Rosydatul Hadanah kepada Jawa Pos Radar Blitar, pekan lalu.
Seseorang yang punya riwayat penyakit penyerta seperti diabetes atau kolesterol hingga darah tinggi wajib waspada.
Jika pola makan sampai tidak teratur berisiko menaikkan gula darah. Apalagi, jajanan Lebaran identik dengan rasa yang manis. Baik makanan maupun minuman.
Menurutnya, efek dari makanan yang berlebihan secara otomatis meningkatkan kalori. Seperti dari lemak, karbohidrat, maupun protein yang punya efek kurang bagus untuk tubuh.
Kalori berlebih yang bersumber dari gula yang sangat berbahaya untuk pasien diabetes. Pun bisa meningkatkan tensi atau darah tinggi.
“Tapi efek yang rentan terjadi adalah bertambahnya kalori sehingga berat badan naik,” jelasnya.
Rosy menjelaskan, sebutir nastar memiliki kandungan 50-70 kalori, sedangkan alam 100 gram nastar kualitas bagus punya 572 kalori.
Biasanya ketika Lebaran tidak cukup makan satu kali. Kondisi itu bisa membuat berat badan naik dalam waktu 2-3 hari. Walaupun hanya sekitar 1-2 ons.
“Apalagi kalau Lebaran sering mager. Nyemil sambil nonton,” sambungnya.
Nah, untuk itu perlu menanamkan mindset agar bisa menahan diri. Mempertimbangkan kebutuhan kalori dalam tubuh. Juga dampak yang terjadi setelahnya.
Junk food, makanan manis, serta asin punya kalori tinggi yang disebut kalori kosong. Artinya, ketika mengonsumsi makanan atau minuman manis tidak membuat perut kenyang, meskipun kalori yang masuk cukup tinggi.
Kondisi itu karena setelah minum atau makan makanan yang manis, glukosa akan naik dan turun dengan cepat.
Namun masih tetap tersimpan di dalam tubuh. Akhirnya, memicu hormon gastrin atau hormon lapar yang menimbulkan rasa lapar.
Ketika ada banyak pilihan makanan, pilih menu yang banyak sayur dan buah. Lalu menyiasatinya dengan minum cukup air putih. Normalnya dalam satu hari 8 gelas atau 1,5 liter.
Jika ingin ngemil bisa diimbangi dengan buah-buahan sehingga lebih mengenyangkan karena mengandung serat dan protein.
“Intinya adalah kita harus memahami betul kebutuhan kalori dalam tubuh. Perhatikan pola makan dan rutin olahraga,” tandasnya. (ink/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila