Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dampak Fenomena El Nino, Kasus DBD di Blitar Tahun ini Mengalami Tren Kenaikan, Begini Pencegahannya

M. Luki Azhari • Selasa, 16 April 2024 | 03:33 WIB
PENGASAPAN: petugas dinas kesehatan melakukan fogging di wilayah Kecamatan Wlingi.
PENGASAPAN: petugas dinas kesehatan melakukan fogging di wilayah Kecamatan Wlingi.

BLITAR - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bumi Bung Karno pada triwulan pertama tahun ini meningkat drastis. Jumlahnya nyaris melampaui akumulasi kasus tahun lalu.

Dinas kesehatan (dinkes) menyebut tren merebaknya DBD ini karena dampak fenomena el Nino.

Kepala Dinkes Kota Blitar Dharma Setiawan mengatakan, selama periode Januari hingga Maret, kasus DBD tercatat 35 kasus.

Grafik penambahan pasien mulai merangkak naik pada Februari-Maret. Dari jumlah itu, tiga orang pasien meninggal dunia. Sedangkan kasus demam dengue mencapai sekira 200 kasus.

“Secara tren ada kenaikan jumlah kasus. Karena sepanjang tahun lalu kasusnya 33. Ini jadi kewaspadaan pemkot dan masyarakat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Blitar.

Dia menduga, salah satu penyebab meningkatnya kasus yakni perubahan cuaca yang tidak menentu.

Yakni, dari kemarau ke penghujan dan sebaliknya. Kondisi ini, kata dia, membuat siklus perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD, aedes aegypti, kian merajalela.

Hampir seluruh lapisan masyarakat rentan terjangkit penyakit ini. Namun, dari 33 kasus di tahun lalu, pasien anak-anak justru mendominasi.

Pihaknya juga mengingatkan agar tiap masyarakat di masing-masing rumah meningkatkan kapasitas sebagai juru pemantau jentik (jumantik). 

“Jangan sampai rumah jadi sarang perindukan. Pakaian-pakaian jangan digantung, buang genangan air yang jernih, seperti di vas bunga, cekungan ban bekas, dan lainnya,” sambungnya.

Seiring dengan adanya lonjakan kasus, dinkes terus mengoptimalkan pengasapan atau fogging.

Misalnya di lingkungan sekolah, lingkungan padat penduduk yang warganya terpapar DBD. Ini dilakukan oleh tenaga ahli, merujuk hasil koordinasi di tiap puskesmas.

“Fogging tidak bisa membunuh jentiknya. Dampak asap hanya ke nyamuk dewasa. Itulah alasan kenapa jumantik dan penggunaan abate penting,” paparnya.

Pria ramah ini menambahkan, Pemkot Blitar sudah melakukan rapat koordinasi (rakor) penanggulangan DBD.

Pencegahan demam ini harus melalui lintas sektor, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menguras dan menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti (3M plus).

“Kami akan optimalisasi peran satu rumah satu jumantik. Lalu, fogging sesuai kondisi di berbagai kelurahan. Puncak kasus akan diketahui saat April,” tandasnya. (luk/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#dinkes #kasus demam berdarah #dbd #Kota Blitar