BLITAR - Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok masyarakat Kabupaten Blitar. Bukannya menurun, pada April namun justru ada penambahan pasien demam berdarah dan berakhir meregang nyawa.
Anomali cuaca dan rendahnya kesadaran terhadap pemberantasan sarang nyamuk (PSN) jadi penyebabnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar Christine Indrawati mengatakan, pada April ini kasus DBD mulai menunjukkan tren menurun. Namun pasien meninggal dunia ini justru bertambah hingga 5 orang.
“Pasien meninggal semua masih anak-anak. Kami telah melakukan evaluasi adanya penambahan pasien DB meninggal dunia itu. Ada 2 hal yang kemungkinan penyebabnya. Pertama, karena terlambat penanganan karena awalnya dikira penyakit demam biasa dan kurangnya kesadaran PSN,” ujar Christine.
Dia melanjjutkan, penanganan demam berdarah paling ampuh dengan PSN. Tentu dengan menguras penampungan air bersih, genangan air yang menjadi sarang nyamuk.
Sedangkan banyak masyarakat meminta ditangani dengan fogging. Padahal fongging itu tidak efektif. Sebaliknya, hal itu bisa memicu kekebalan nyamuk jika sering dilakukan.
Kasus demam berdarah di Kabupaten Blitar memang tinggi mulai Januari hingga Maret melonjak 2,5 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Pada April masih tinggi, namun tidak sebanyak pada Maret.
Kondisi ini tidak hanya terjadi di Blitar, hampir semua daerah angka DBD tinggi. Bahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengklaim ada kenaikan kasus 3 kali lipat.
“Penyebab utamanya ya kurangnya kesadaran terhadap PSN. Apalagi nyamuk Aedes aegypti ini hidup di air tenang dan masyarakat abai terhadap perawatan air jernih yang tidak terpakai. Memang kini masuk siklus 5 tahunan, berkembang nyamuk menjadi faktor naiknya demam berdarah,” ungkapnya.
Christine menyebut DBD ini menyasar semua usia. Meskipun 7 pasien yang meninggal dunia adalah anak-anak.
Untuk perawatan rawat inap demam berdarah ini menyebar, ada yang di rumah sakit dan puskesmas. Bahkan juga ada orang Blitar hingga dirawa di luar kota.
Sebelumnya, dinkes banyak menerima laporan kasus DBD hingga meninggal dunia. Namun setelah ditelusuri oleh petugas dinkes, ternyata meninggal dunia karena penyakit lain.
“Bahkan bulan lalu saya dikirimi video kasus demam berdarah yang meninggal dunia. Setelah ditelusuri bukan dan ternayata meninggal dunia karena komplikasi,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila