BLITAR - Selain vaksin meningitis, 965 calon jemaah haji (CJH) Kabupaten Blitar juga harus vaksin polio. Kebijakan ini diambil karena dampak kejadian luar biasa (KLB) Jatim.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Anggit Ditya Putranto mengatakan, Jawa Timur kini menyandang status KLB polio.
Karena itu, pemerintah Indonesia dan Arab Saudi mensyaratkan CJH asal Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk vaksin polio.
“Rabu (24/4) lalu, kami mengambil vaksin polio di Dinkes Jawa Timur. Vaksin akan diberikan kepada jemaah haji pekan ini. Sekitar 200 botol vaksin yang kami sediakan untuk CJH, setiap botol vaksin untuk 4 orang. Bila nanti ada kekurangan, vaksinnya ditambah,” ujar Anggit.
Dia melanjutkan, vaksin polio wajib sehingga tidak hanya karena KLB. Namun juga untuk mengantisipasi adanya penyebaran penyakit serupa saat di Tanah Suci.
Maklum, penyakit ini bisa ditularkan melalui feses alias kotoran manusia. Dengan begitu, CJH harus lebih berhati-hati dalam beraktivitas saat menjalankan ibadah haji.
CJH setidaknya harus menerima satu dosis vaksin polio. Vaksin ini akan diberikan di puskesmas sesuai tempat tinggal para CJH. Anggit memastikan 22 puskesmas sudah siap memberikan vaksin mulai hari ini.
“Vaksin polio ini gratis untuk CJH reguler. Untuk calon jemaah haji khusus, tergantung biro hajinya. Sedangkan tes kesehatan jemaah haji sudah dilakukan saat istitaah atau proses pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (Bipih),” ungkapnya.
Anggit menyebut, semua CJH yang akan berangkat pada akhir Mei nanti dalam kondisi sehat. Meskipun saat istitaah, ada beberapa yang tidak lulus karena memiliki penyakit yang butuh penanganan lama.
Untuk menjaga stamina dan daya tubuh CJH agar tetap prima, dinkes juga sudah melakukan tes kebugaran kepada para calon jemaah.
Tujuannya agar mereka siap dalam menjalan ibadah haji. Sebab, 90 persen ibadah haji ini merupakan kegiatan fisik.
“Meskipun begitu, kami meminta CJH untuk menjaga kebugaran secara mandiri. Dengan berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila