BLITAR - Budi daya bawang merah (bamer) di Bumi Bung Karno kurang dilirik petani. Hingga bulan ini hanya sekitar 10 petani aktif menanam. Lesunya minat menanam lantaran jenis tanaman hortikultura ini sulit dikelola.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Blitar (DKPP) Kota Blitar Dewi Masitoh mengatakan, selama periode Januari hingga Maret lalu produksi bawang merah 6 ton. Jumlah tersebut sulit meningkat lantaran daya tanam rendah.
"Di kota memang tidak banyak yang menanam. Pantauan kami luas tanam hanya 1 hektare (ha), produktivitas 6 ton," ujarnya Senin (29/4).
Adapun, kurang dari 10 orang petani yang menanam itu merupakan warga Kelurahan Tlumpu dan Turi. Sementara di keluharan lain terbanyak petani menanam padi.
Penyebab minimnya minat menanam bawang juga karena perlu air yang kebutuhannya banyak. Lalu, bedengan atau lahan untuk menanam harus lebih tinggi dari pada saat menanam tanaman lainnya.
"Juga tergantung lahan yang dipakai apakah memang bekas padi sawah, lahan tegal, lahan kering, tentu butuh penyesuaian," jelasnya.
Sementara itu harga bawang pascalebaran terus meroket. Hingga kemarin tercatat masih Rp 60 ribu per kg dari harga normal Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kg.
Dia menilai, penyebab naiknya harga bawang merah yang melonjak tak hanya dipicu produksi lokal rendah.
Melainkan, pasokan dari luar daerah turut berkurang. "Karena kota bukan produksi utama. Bisa jadi karena kondisi tidak panen, karena kami terakhir panen akhir Maret kemarin," tuturnya.
Hasil panen petani selama ini tetap dijual di pasar lokal. Meski tidak banyak, daya beli tetap terjaga.
"Tetap ada yang ambil. Walaupun tidak banyak seperti daerah lain, tetap ada yang membeli di lokalan," tandasnya. (luk/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila