BLITAR - Tren penyakit sedang meningkat di daerah Sanankulon saat ini adalah kasus demam berdarah dengue (DBD). Itu terlihat dari para pasien sedang mengantre untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas Sanankulon.
Kepala Puskesmas Sanankulon, dr Endah Rositaningsih mengaku, di Kecamatan Sanankulon sedang tinggi kasus DBD. Rata-rata pasien terjangkit adalah usia anak-anak, namun usia dewasa ada.
“Telah kami edukasi untuk penyembuhan, akan kami beri surat rujukan ke rumah sakit terdekat, jika memang memerlukan tindakan medis khusus," ungkapnya.
Hingga akhir April ini, sudah ada puluhan kasus DBD di Puskesmas Sanankulon ditangani. Itu mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2023 lalu di periode sama.
Endah, sapaan akrabnya, menjelaskan faktor penyebab penyakit DBD adalah karena virus dibawa nyamuk Aedes aegypti.
Nyamuk tersebut bisa berkembang biak karena faktor lingkungan sekitar. Terbanyak kubangan air, lingkungan kotor, serta masih belum optimalnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Biasanya, kata dia, penyakit tersebut muncul dengan gejala seperti demam tinggi selama beberapa hari, kemudian muncul bintik-bintik kemerahan di badan, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri pada area belakang bola mata.
Dalam upaya menekan angka penularan penyakit DBD tersebut, beberapa langkah preventif telah diambil oleh tim Puskesmas Sanankulon, antara lain koordinasi dengan camat dan diteruskan ke kepala desa, dan koordinasi dengan bidan desa serta kader desa, untuk program pencegahan DBD.
"Telah kami lakukan adalah memberikan edukasi kepada masyarakat Sanankulon tentang cara pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3 M plus. Yaitu menguras dan menyikat secara teratur tempat air, menutup tempat penampungan air serta memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang tidak terpakai,” katanya.
Dia menyatakan, selain itu mencegah gigitan dan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. melakukan pengumuman pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, melalui pengeras suara di desa-desa daerah Sanankulon satu minggu tiga kali. “Juga melakukan gerakan 1 rumah 1 jumantik (juru pemantau jentik)," katanya.
Baca Juga: Empat Puskesmas di Kabupaten Blitar Berjuang Raih Akreditasi, ternyata Tujuannya Semulia Ini..
Selain itu, pihak Puskesmas Sanankulon juga melakukan kegiatan fogging atau penyemprotan obat insektisida di beberapa desa di wilayah Sanankulon.
Dengan tujuan meminimalkan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti yang menyebabkan terjadinya penyakit DBD, dan mengedukasi masyarakat tentang tanda bahaya penyakit DBD, agar segera melaporkan ke bidan desa dan diteruskan ke puskesmas, serta cepat mendapatkan penanganan tepat.
Dia berpesan kepada masyarakat agar setidaknya terhindar dari penyakit DBD. Yakni menjaga kebersihan lingkungan, melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), serta menerapkan 3M plus.
Sementara warga yang punya balita harus waspada, karena nyamuk Aedes aegypti biasanya mulai menyerang pagi hari, saat balita masih tertidur.
“Walaupun salah satu rumah sudah menerapkan kebersihan, namun lainnya abai, masih bisa tertular dari penderita lain, karena nyamuk Aedes aegypti mempunyai jangkauan terbang sampai 100 meter, jadi bisa terbang dari satu rumah ke rumah lainnya,” pungkasnya. (ser/iyo/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila