BLITAR - Bertanam dengan sistem hidroponik tidak harus mengucurkan dana banyak. Faktanya, Supriyanto, warga Desa/ Kecamatan Ponggok, sukses menanam buah melon dengan peralatan seadanya.
BAHKAN dengan sistem buatanya, Supriyanto mampu memperoleh omzet puluhan juta dengan kondisi buah segar dan besar.
“Saya menggunakan alat yang bekas sebagai media tanam, yakni bekas pakan ayam. Itu lebih murah daripada menggunakan paralon yang baru. Bekas pakan itu saya lapisi plastik yang biasanya digunakan untuk penutup gundukan tanaman cabai.
Terpenting aliran air itu jalan dengan normal, sedangkan di atasnya menggunakan styrofoam yang dilubangi,” ujarnya.
Menurut dia, paling pening saat mengunakan media bekas ialah kondisi media tersebut. Menjaga kondisi atau setidaknya dilapisi plastik kotoran dan bakteri yang bersumber dari media bekas sehingga tidak akan menyebar dan merusak tanaman.
Pengeluaran yang dikucurkan terpangkas dengan pemanfaatan media bekas ini. Padahal, harga per satuan paralon yang digunakan untuk hidroponik biasanya dibanderol Rp 55 ribu.
Kemudian untuk ukuran yang utuh sepanjang 4 dim, harganya bisa Rp 70 ribu. Dengan sistem ini, harga yang didapat yakni setengahnya sehingga menghemat Rp 25 ribu.
Pada lahan greenhouse berluasan 350 meter persegi dengan jumlah tanaman sekitar seribu, dia membutuhkan 80 paralon dan menghabiskan dana sebesar Rp 30-35 juta.
“Dana itu untuk awal saja. Setelah jadi semuanya, lebih mudah daripada yang konvesional. Soalnya tidak lagi perlu menggemburkan tanah.
Terlebih, hidroponik itu lebih mudah. Tenaga cukup sekali di awal. Kemudian tinggal menyiapkan nutrisi dan benih,” ujarnya.
Kemudian untuk pupuk, pria dua anak ini memilih racikan sendiri dari beberapa produk di pasaran. Dengan berbagai cara ini, buah melon buatannya bisa tumbuh subur.
“Hidroponik itu tidak mahal, bisa dibuktikan. Dengan media seadanya dan meracik obat sendiri sesuai kapasitas produksi, maka bisa untung banyak. Untuk perawatan penyakit, pemberian nutrisi dan lain-lain itu lebih mudah di hidroponik,” ungkapnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila