BLITAR - Pemerintah Kabupaten Blitar belum bisa menyediakan pukesmas pembantu (pustu) di tiap desa. Alasanya, pemerintah daerah terkendala minimnya anggaran dan tenaga medis yang terbatas.
Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan mengeluarkan edaran kepada dinas kesehatan untuk menambah layanan puskesmas pembantu (pustu) pada tahun 2023 lalu.
Ini untuk menekan tingginya kasus kanker, stroke, jantung, dan urologi yang tinggi di Indonesia. Direncanakan, pada 2028 setiap desa sudah memiliki pustu.
Permasalahan ini mencuat karena lambanya kasus-kasus tersebut terdeteksi. Terlebih kebanyakan kasus baru terdeteksi saat penyakit sudah dalam kondisi parah.
"Itu programnya namanya Intergrasi Layanan Primer (ILP), sebagai bentuk penangan dini penyakit yang sekali perawatan tidak bisa sembuh. Dengan ketentuan satu puskesmas pembantu ada satu bidan, satu perawat dan dua kader," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati.
Sejauh ini, ada sekitar 68 pustu di Kabupaten Blitar. Jumlah ini masihjauh dari target yang ditentukan, yakni 248 pustu.
"Sekarang ini setiap puseksmas ada satu pustu. Jadi, dari 25 puskesmas masih-masing memiliki pustu satu. Jadi kalau di total itu ada 93 fasyankes. Namun itu masih belum semuanya, soalnya tidak semudah itu mencari perawat dan bidan," ujarnya.
Hal ini menjadi tambahan beban dinkes. Mengingat tahun ini banyak puskesmas yang masih kekurangan tenaga medis.
Untuk mengatasi kekurangan ini, Dinkes mengajukan usulan untuk penambahan bidan dan perawat. Namun, keinginan tersebut masih menunggu di anggaran.
"Karena anggaran pemerintah terbatas, jadi nantinya penambahan Pustu dan tenaga medisnya bertahap. Rencananya pertahun itu ada penambahan 20 pustu," jelasnya.
Pantauan Koran ini, di Desa Sumber, Kecamatan Sanankulon ada pustu yang terlihat mangkrak. Menanggapi hal ini, Christine mengungkapkan bahwa bangunan tersebut memang terlihat bagus dari luar. Namun, di dalamnya mengalami beberapa kerusakan dan mengharuskan untuk pindah lokasi pelayanan.
“Itu enggak tutup, tetapi fungsimnya di alihkan ke lokasi lain sejak tahun lalu. Soalnya bagian dalamya itu sudah rusak berat. Jadi kalau ditempati khawatir ada korban yang tidak diinginkan, entah itu roboh atau kejadian lain,” jelasnya. (mg2/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila