BLITAR - Kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan oleh UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno melalui Literasi Daur Ulang.
Bentuk keseriusan dalam transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang digelar di amfiteater ini juga bertujuan untuk mendorong tanggung jawab sosial yang berdampak pada perekonomian peserta.
Kegiatan literasi ini dilaksanakan selama tiga hari yakni sejak Senin (6/4) hingga Rabu (8/4). Diikuti kurang lebih 100 peserta dari 360 pendaftar yang melalui tahap seleksi secara online.
Gelaran literasi dengan fokus daur ulang ini mendatangkan narasumber pakar pengolahan sampah dan ketua ASOBSI (Asosiasi Bank Sampah Indonesia) yaitu Wilda Yanti dan Tri Sugiarti, salah satu pengelola bank sampah di Tri Lestari Provinsi Jakarta, yang kini sukses membangun taman baca dari memanfaatkan daur ulang sampah.
Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Nurny Syam mengatakan, kegiatan Literasi Daur Ulang ini merupakan wujud dari keseriusan UPT Perpustakaan Bung Karno dalam mentransformasikan nilai-nilai berbasis inklusi sosial.
Harapannya, peserta mampu mewujudkan kemandirian ekonomi melalui ruang lingkup di sekitar lingkungannya masing-masing.
“Seperti sampah rumah tangga misalnya, yang sebenarnya bisa diolah menjadi barang bernilai sehingga memiliki nilai jual yang tinggi,” jelasnya kepada Koran ini Rabu (8/5/2024).
Pemateri Wilda Yanti membahas berbagai solusi sehingga mampu menyelesaikan persoalan sampah.
Karena selain memberikan dampak yang bermanfaat pada lingkungan dan sosial, juga dapat meningkatkan nilai ekonomi dan menciptakan ekonomi yang sirkular.
Hari pertama, para peserta menerima materi terkait bagaimana mengenali jenis sampah, memilah, hingga menangani sampah sesuai dengan sifat dan jenisnya.
“Karena semua jenis sampah pada dasarnya dapat dituntaskan dengan cara pengolahan yang berbeda-beda. Untuk itu, perlu dipilah, dibedakan sesuai dengan jenis dan sifatnya,” ungkapnya.
Kemudian pada hari kedua, peserta mempraktikkan dengan membuat kelompok atau kelembagaan untuk menyusun program kerja bank sampah, hingga daur ulang sampah yang dapat dijadikan benda bernilai.
“Banyak hal yang dapat diolah dari sampah organik yang kerap dijumpai. Seperti sampah rumah tangga yang dapat dijadikan budi daya maggot, kompos, dan sabun, nantinya juga akan dipraktikkan,” terang Wilda.
Hari terakhir, peserta diajak untuk membuat kompos dan sabun dari limbah rumah tangga.
Lalu diberikan bekal dalam manajemen sampah, marketing, hingga penjualan produk yang dihasilkan dari sampah.
“Sebenarnya apa pun jenis sampah, baik organik maupun anorganik, akan memiliki nilai jual jika kita peduli dan mau untuk mengelolanya secara baik,” tegas narasumber lain, Tri Sugiarti.
Selama proses pelatihan ini, peserta terlihat begitu antusias dan menyimak materi literasi daur ulang yang disampaikan para narasumber dari hari pertama hingga terakhir.
Banyak ilmu dan wawasan yang diterima peserta dari kegiatan Literasi Daur Ulang ini. Apalagi ditambah praktik secara langsung.
Salah satu peserta, Arwendi Kurniawan, merasakan manfaat dari Literasi Daur Ulang ini.
“Materi dan praktik dari Literasi Daur Ulang ini cukup terperinci, mulai dari pembentukan bank sampah induk, manajemen bank sampah, pengelolaan, hingga pendistribusian.
Semua diajarkan terperinci dan lengkap. Harapan kami bisa memberikan dampak bagi Blitar Raya dalam menuntaskan sampah, serta bisa meningkatkan kesejahteraan secara ekonomi,” ungkapnya. (guh/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila