Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sosok Muhammad Fadli, Guru Nyambi Pembudi Daya Ayam Pelung, Berawal dari Coba-Coba, Kini Sudah Langganan Juara

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 10 Mei 2024 | 17:10 WIB

 

HOBI: M Fadli bersama ayam pelung peliharaannya yang sudah banyak mengikuti kontes
HOBI: M Fadli bersama ayam pelung peliharaannya yang sudah banyak mengikuti kontes

BLITAR - Profesi sebagai pendidik di salah satu madrasah ibtidaiyah (MI) swasta tidak membuat Muhammad Fadli tutup mata dengan peluang bisnis yang ada.

Warga Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, ini mencoba peruntungan dengan membudi daya Ayam Pelung. Hasilnya berdampak signifikan untuk ekonomi keluarga.

Sebuah rumah sederhana di Desa Sawentar tampak sepi saat Koran ini berkunjung. Seorang laki-laki tampak sedang mengecek kondisi ayam di kandang yang berada tepat di sebelah rumah. Dia adalah Muhammad Fadli, seorang pembudi daya ayam pelung.

Selain sebagai guru di  MIS Raudlatul Hanan, Muhamad fadli ternyata sebelumnya juga telah nyambi sebagai penjual ayam Jawa atau ayam kampung. Hingga pada 2018 lalu, dia menerima pemberian dua ekor bibit ayam dari salah satu saudaranya di Malang.

“Ya itu awalnya, saya diberi bibit ayam oleh kakak saya dari Malang. Saya diminta untuk mencoba memeliharanya, karena jenis ayam ini sedang banyak yang minat,” tuturnya sambil mengulangi permintaan kakaknya 6 tahun silam saat memberikannya bibit ayam.

Kemudian, sambil tetap melanjutkan berjualan ayam Jawa, dia memelihara dua ekor bibit ayam pelung dari saudaranya. Ternyata, setelah mencoba mencari tahu tentang ayam pelung, memang ada komunitas para pehobi bahkan ada kontes khusus ayam pelung.

“Saya mengetahui kalau ayam ini dari Cianjur, Jawa barat. Ketika besar, khususnya ayam jago memang tubuhnya lebih besar dari ayam kampung biasa, beratnya bisa 4-5 kilogram (kg) dan tingginya 40-50 sentimeter,” jelasnya.

Proses pemeliharaannya hampir sama dengan ayam Jawa. Kelebihannya ada pada suara dan postur tubuh ayam yang besar. Selain itu, harga bibit dan ayam yang siap kontes jauh lebih tinggi dari ayam jago biasa.

“Selain badannya yang lebih besar, suaranya itu lebih panjang. Anak ayam Jawa umur sebulan itu harganya Rp 25 ribu, sementara untuk ayam pelung umur seminggu bisa mencapai Rp 35-50 ribu,” ujarnya.

Setelah mengetahui prospek ayam pelung, dia memutuskan untuk benar-benar hijrah dari menjual ayam Jawa ke budi daya ayam pelung.

Karena dari segi ekonomis tentu lebih menguntungkan. Selain untuk ayam kebutuhan kontes, bibitnya juga bisa dijual.

“Setelah saya memahami cara memelihara, terus prospeknya, saya akhirnya memilih khusus untuk budi daya ayam pelung. Kayaknya peluangnya lebih bagus,” aku pria ramah ini.   

Dalam perjalanannya, dia tak hanya sekadar murni menjual bibit atau anakan ayam Pelung, tapi juga mulai melirik ayam-ayam yang memang spesialis kontes. Ternyata setelah mencoba mengikuti beberapa kali kontes, ayam dari kandangnya mulai ada yang naik podium alias juara.

“Kalau sekarang, pehobi dari Kediri, Malang, hingga Madura, sering mengambil ayam bahan kontes dari saya. Untuk harga ayam yang baru mau kontes dengan kualitas bagus bisa mencapai Rp 250-350 ribu,” jelasnya.

Hingga kini, manis pahit penjurian di perlombaan atau kontes ayam pelung sudah dilalui. Dari hanya ikut-ikutan, kemudian setelah terus mencoba hingga puluhan kali ikut kontes, ayam hasil budi dayanya mulai sering menjadi juara.

“Minimal penggembira, tapi setidaknya setiap kontes pasti ada yang nyantol. Dulu pertama kontes di Kediri, alhamdulillah tembus penampilan juara pertama.” kenangnya.  

Terkait perawatan ayam pelung kontes, pria berusia 58 tahun ini membocorkan bahwa melihat kondisi ayam adalah yang utama.

Ayam harus dalam kondisi prima. Lalu, ada karantina minimal lima hari sebelum kontes, serta pemberian pakan ketika menjelang lomba.

“Pakannya ini bisa diberi nasi yang dilembutkan, sayur tomat agar suaranya lebih jernih, serta dimandikan dan tidak lupa dijemur,” bebernya.

Bagi Fadli, postur ayam adalah faktor pendukung kedua, sedangkan yang paling utama adalah suara kokok yang dihasilkan. “Tidak menutup kemungkinan postur bisa memengaruhi suara. Tapi, menurut saya, yang utama ya suara yang dihasilkan,” ungkapnya. (*/c1/ady)

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#ayam pelung #bisnis #Kecamatan Kanigoro #kontes #pendidik