BLITAR - Flu Singapura sedang menghantui masyarakat Kabupaten Blitar. Meski tidak mengancam jiwa, setidaknya ditemukan 23 kasus hingga awal Mei tahun ini.
Parahnya, mayoritas anak-anak terpaksa opname karena kesulitan menelan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Christine Indrawati menjelaskan, penyakit ini merupakan infeksi virus pada beberapa anggota tubuh. Mulai dari tangan, kaki, atau mulut. Ciri penyakit ini menyerupai cacar air.
“Itu seperti bintik-bintik ada airnya. Jadi serumpun cacar air. Yang membedakan, cacar air ini berawal dari badan lalu menyebar ke wajah dan tangan. Sedangkan flu Singapura ini tandanya dari tangan, kaki, dan mulut, lalu menyebar ke tubuh,” jelasnya.
Christine mengungkapkan bahwa penyakit ini merupakan penyakit musiman. Biasanya terjadi ketika peralihan musim hujan ke musim panas.
Kendati pada kondisi normal juga tetap ada flu Singapura, jumlahnya tidak begitu signifikan.
Dia mengungkapkan, faktor terbesar penyebab penyakit ini adalah penurunan daya tahan tubuh.
Biasanya penyakit ini semakin meluas karena pecahnya bintik-bintik berisi cairan yang ada di anggota tubuh tersebut.
Selain itu, penyakit ini bisa ditularkan melalui air liur. Karena itu, dia mengimbau agar menjaga kebersihan lingkungan, mengenakan masker, dan cuci tangan agar terhindar dari virus.
“Semua penyakit yang berkaitan dengan virus itu 95 persen ada hubunganya dengan daya tahan tubuh yang lemah dan kurangnya menjaga kebersihan. Soalnya, virus itu sebenarnya ada disekitar kita.
Jika daya tahan tubuh lemah, maka mudah terserang penyakit. Sebenarnya flu Singapura ini setiap tahun kasusnya tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Christine menyebut, tahun ini ada 23 pasien flu Singapura yang dirawat di 11 puskesmas.
Mayoritas penderitanya anak-anak. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan virus ini juga dapat menyerang orang dewasa.
“Penyakit ini diawali demam, pegal linu, pusing, dan mual-mual. Namun yang paling mudah untuk diidentifikasi adalah bintik-bintik di tangan, kaki, dan mulut,” terangnya.
Karena area mulut juga terserang, penderita flu Singapura sering kesulitan menelan. Karena itu, penderita penyakit ini lebih sering minum dan makan bubur. Jika parah dan kesulitan makan, maka penderita diharuskan untuk rawat inap.
“Yang sering opname itu anak-anak, soalnya mereka sulit makan. Selain itu, memberikan suplemen dan vitamin juga harus dilakukan agar segera pulih dan bisa beraktivitas lagi,” jelansya. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila