BLITAR - Sejumlah pihak turun tangan usai viral tiga remaja putri yang mabuk di persawahan Kecamatan Sutojayan beberapa waktu lalu.
Kini, mereka mendapat perhatian dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Blitar.
Lembaga tersebut memastikan akan melakukan pendampingan psikologi kepada ketiga pelajar sampai mereka dapat beraktivitas seperti sediakala.
“Telah berkunjung ke rumah dua remaja putri pada akhir pekan lalu. Sedangkan yang satu tidak diperkenankan oleh orang tuanya untuk ditemui,” terang kepala unit UPT PPA, Dwi Andi Prakarsa, Rabu (8/5).
Ketiga remaja putri itu memang teman bermain dan lokasi rumahnya saling berdekatan di Kecamatan Sutojayan.
“Kondisi mereka sekarang merasa malu, karena dikucilkan teman-temannya. Sebab, mereka berasal dari keluarga broken home dan tidak diasuh orang tua langsung.
Sehingga pengawasan orang tua dalam kegiatannya sehari-hari kurang,” ujar Andi, sapaan akrabnya.
Lanjut dia, pengawasan anak merupakan tanggung jawab orang tua. Dengan pengawasan langsung oleh orang tua, pergaulan anak diharapkan dapat lebih terkontrol.
Maka dari itu, PPA pada Selasa (7/5) lalu mengirim psikolog untuk melakukan pendampingan.
Tujuannya agar kondisi psikis tiga remaja putri dapat segera kembali pulih. Menurut dia, penyebab tiga remaja putri mabuk ini karena tekanan batin dampak broken home.
Selain itu, kurangnya pengawasan orang tua terhadap mereka. Pasalnya, mereka tidak diasuh oleh orang tua kandung, tetapi diasuh oleh paman dan neneknya.
“Pendampingan psikolog ini ditujukan untuk tiga anak remaja agar dapat lebih terbuka terhadap masalahnya.
Namun, salah satu orang tua remaja putri yang duduk di bangku MI tidak berkenan untuk dilakukan pendampingan psikolog,” ungkapnya.
Padahal, kata dia, pendampingan psikolog ini sangat penting. Terlebih dengan viralnya video tersebut membuat ketiga remaja merasa trauma.
Jika keluarga tertutup, ada kemungkinan psikologis anak akan terbebani dan bertindak yang tidak seharusnya.
“Dua hari ini sudah kami kejar. Namun, keluarga masih enggan untuk mempertemukan kami dengan anak tersebut. Padahal, kami ini hanya membantu untuk menemukan solusi. Terlebih ini waktunya ujian sekolah,” tandasnya.
Berdasarkan informasi yang didapat, siswa ini terkena skorsing. Harapannya, PPA bisa membantu meringankan beban ini sehingga siswa dapat segera mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Tidak hanya langkah itu, PPA sudah berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk menyelesaikan permasalahan ini.
“Kami akan terus berkoordinasi dengan dinas pendidikan. Apalagi sekarang ini musim ujian. Kami tidak ingin para korban ini tertinggal,” ujarnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila