BLITAR - Di Dusun Boro, Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, ada benda bersejarah berupa Arca Ganesha. Hingga kini, benda tersebut masih kokoh berdiri dan memiliki bentuk unik.
Area arca masuk dalam gang kecil di tengah lingkungan penduduk. Arca Ganesha ini masih berdiri dengan gagah.
Arca yang memiliki ukuran tinggi 170 sentimeter (cm), lebar 113 cm, dan panjang 113 cm yang terbuat dari pahatan batu andesit ini memiliki tampilan dua sisi.
Juru kunci arca Ganesha Boro, Robi Marwanaya menuturkan, salah satu keunikan dari arca ini dibandingkan dengan arca Ganesha lain ada pada pahatan yang memiliki dua wujud.
“Tampak depan ada Ganesha yang identik dengan dewa ilmu pengetahuan, sedangkan sisi belakang berwujud Mahakala yang menyeramkan.” terangnya kepada Jawa Pos Radar Blitar ditemui Rabu (15/5) pekan lalu.
Mitos yang berkembang di masyarakat, arca Ganesha ini dulunya berasal dari Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, dan dipindahkan ke Kadipaten Blitar sebanyak dua kali.
Namun, setelah dipindahkan di kadipaten, arca tersebut selalu kembali ke tempatnya sekarang. Arti Boro sendiri yakni ‘perantau’ atau ‘pendatang’.
Menurut dia, arca Ganesha ini berasal dari masa Kerajaan Singasari. Pada bagian bawah terdapat sengkalan yang bertuliskan “Hana Gana Hana Bumi” yang menunjukkan angka bilangan 1161 Saka.
Terlepas dari unsur mitosnya, peletakan arca Ganesha ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Kerajaan Singasari untuk melegitimasi wilayah bandar di area Sungai Brantas yang dulunya dikuasai Kerajaan Kediri.
Arca Ganesha digambarkan dalam posisi duduk bersila utkutisana. Yaitu, duduk seperti bayi dengan dua telapak tangan dan kaki saling bertemu.
Arca ini tampak duduk di atas alas yang berhiaskan untaian tengkorak. Atribut tengkorak ini merupakan pengaruh aliran Tantrayana yang berkembang saat itu.
Wajah Ganesha digambarkan dengan mata setengah terpejam. Namun, kondisi terkini, kedua gading Ganesha telah patah. Sebelumnya, gading Ganesha disebut ekadanta yang berarti memiliki satu gading.
Belalainya digambarkan menjulur pada mangkuk modaka yang dipegang oleh tangan kiri depan. Ini diibaratkan sebagai orang yang haus akan pengetahuan.
Secara keseluruhan, arca Ganesha memiliki empat tangan. Tangan depan memegang gading dan mangkuk, sedangkan tangan belakang memegang kapak dan tasbih.
Selain menjadi situs yang sering dikunjungi para siswa, situs Arca Ganesha Boro kadang digunakan sembahyang bagi masyarakat Hindu dan Kejawen.
“Sayangnya, situs ini kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Blitar,” ungkapnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila