Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sampah Usai Bazar Blitar Djadoel Menggunung Sampai Segini, Relawan-DLH Sigap Jaga Kebersihan

Muhamad Ilham Baha’udin • Rabu, 12 Juni 2024 | 18:05 WIB

 

TETAP BERSIH: Relawan dan petugas DLH membersihkan sampah dari pengunjung yang menghiasi stan setiap malam hari setelah bazar tutup.
TETAP BERSIH: Relawan dan petugas DLH membersihkan sampah dari pengunjung yang menghiasi stan setiap malam hari setelah bazar tutup.

BLITAR - Event Bazar Blitar Djadoel (BBD) tak hanya sekadar menyumbang pendapatan asli daerah (PAD), tapi juga sampah yang cukup besar. Bahkan, informasinya, sampah organik bisa mencapai 2 ton sehari.

Untungnya ada anak-anak muda dari Tani Remen Blitar (TRB) yang tak hanya mengumpulkan dan membersihkan area BBD, tapi juga bakal memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk organik yang akan disumbangkan ke petani untuk menunjang produktivitas beras sehat.

Co-founder TRB, Dimas Bagus Pratama mengatakan, menumpuknya sampah pascakegiatan sering kali menimbulkan polemik tersendiri.

Karena itu, dia bersama teman-teman di TRB tergerak untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih.

“Kita juga dimintai tolong oleh disperindag untuk memanfaatkan sampah organik setelah acara,” terangnya kepada Koran ini, Selasa (11/6/2024).

Sampah tersebut, jelas dia, akan dipilah berdasarkan jenisnya. Sampah anorganik akan didaur ulang dan dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan. Kemudian, sampah organik akan dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik guna mendukung produktivitas pertanian beras sehat.

Sementara itu, penyuluh lingkungan hidup dinas lingkungan hidup (DLH), Haryono menegaskan, sampah dari kegiatan BBD mencapai 2 ton setiap hari. Jumlah tersebut merupakan jumlah total dari sampah organik dan anorganik.

“Itu selain pembukaan, malam minggu, dan malam penutupan, biasanya hari tersebut meningkat hingga hampir 3 ton karena terjadi lonjakan pengunjung,” terangnya.

Menurut dia, mayoritas sampah tersebut berupa sampah organik seperti sisa-sisa sayur dan perasan jeruk.

Sampah anorganik seperti kardus dan botol plastik biasanya juga dipilah oleh pemulung untuk dimanfaatkan.

Selain itu, DLH dan disperindag telah menyiapkan lebih dari 100 tempat sampah di berbagai titik untuk memfasilitasi pengunjung.

Dengan begitu, dia berharap masyarakat sadar diri untuk berperilaku sehat dan menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Sejak dua tahun yang lalu, DLH telah mengedukasi masyarakat dan terus mengimbau melalui pos informasi agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan.

Hal itu terbukti efektif dengan penuhnya tempat sampah yang disediakan seusai acara.

“Belum ada informasi terkait pemanfaatan sampah organik. Tapi kalau memang mau digunakan, silakan. Malah bagus ada nilai tambah, toh dari tanah kembali ke tanah,” pungkasnya.

Perlu diketahui, pola tanam padi sehat berkomitmen mengurangi penggunaan produk kimia hingga 50 persen.

Konsep tersebut mengaplikasikan pupuk organik untuk memperbaiki kualitas tanah dengan mengembalikan unsur hara ke bumi. (mg1/c1/ady)

 

 

 

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Blitar Djadoel #pendapatan asli daerah (PAD) #sampah