BLITAR - Kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Blitar hingga Juni ini termasuk cukup menghawatirkan. Meskipun jika dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah penderita mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Pada tahun ini ditemukan terdapat 154 kasus, sementara tahun lalu hingga bulan yang sama telah mencapai 391 kasus.
Padahal, penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri ini diidentifikasi sebagai salah satu penyakit yang berakibat fatal.
Kasi Pencegahan, Pengendalian, Penyakit Menular (P3M) Dinkes Kota Blitar, Trianang Setyawan mengatakan, prinsip tujuan dari pencegahan dan pengendalian untuk mencegah penyakit sedini mungkin dengan harapan segera tertangani dan tidak menular pada orang lain.
“Iya, banyak penderita TB yang belum diketahui, karena masyarakat sering kali menganggap batuk biasa, padahal bisa jadi TB. Ini kita terus getolkan skrining,” ungkapnya kepada Koran ini kemarin.
Menurut dia, gejala awal utama TB adalah batuk lebih dari dua minggu. Batuk tersebut bisa berupa batuk kering maupun batuk berdahak, bahkan sampai mengeluarkan darah jika sudah parah.
Selanjutnya, keluhan sesak napas. Terkadang gejala ini tidak muncul pada beberapa penderita. Gejala tambahan berupa demam tanpa sebab yang jelas, keringat dingin di malam hari padahal tidak beraktivitas, dan berat badan turun drastis.
“Untuk gejala-gejala tersebut berbeda pada setiap orang. Masyarakat seharusnya segera memeriksakan diri, atau keluarga yang mengalami batuk, sehingga bisa diantisipasi secara dini,” ujarnya.
Proses inkubasi bakteri TB ini bervariasi. Jika daya tahan tubuh sangat baik, bisa jadi tidak tertular atau sebaliknya. Namun, ada juga kasus TB laten.
Yakni, tidak bergejala TB, tapi melalui tes tuberkulin positif TB. Hal tersebut lantaran imun tubuh belum mampu membunuh bakteri sehingga menidurkan sementara.
“Kalau kondisinya segar, biasanya gejalanya hilang. Tapi saat imun menurun, tiba-tiba muncul dan menyerang,” akunya.
Penularan TB terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) saat penderita TB bersin atau batuk.
Oleh sebab itu, risiko penularan penyakit oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini lebih tinggi pada orang yang tinggal dalam satu rumah.
“Kita juga sering sosialisasi TB, juga lakukan investigasi kontak, skrining pada kontak serumah, terus juga skrining ke tempat berisiko yang banyak kerumunan. Misalnya, ponpes, lapas, atau pasar,” jelasnya.
TB berbeda dengan batuk biasa. Sebab, bakteri bersembunyi pada rongga paru-paru. Pengobatan perlu rutin dilakukan hingga enam bulan.
Jika berhenti ketika merasa baikan, dikhawatirkan akan menimbulkan resistensi obat. Jika resisten obat, proses pengobatan bisa membutuhkan waktu hingga dua tahun lamanya.
“Gratis ya untuk pemeriksaan dan obat, untuk alat tes cepat molekuler (TCM) yang ada di RSUD Mardi Waluyo dan Puskesmas Kepanjenkidul. Tapi, tiap faskes bisa melayani untuk pengambilan dahak.
Terkadang kalau memang dicurigai TB langsung dirujuk. Tahun ini yang resisten obat belum ada. Saat pemeriksaan TCM itu juga ada informasi resisten obat atau tidak,” pungkasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila