BLITAR - Pengunjung Monumen Trisula di kecamatan Bakung kian sedikit. Diduga, ini karena minimnya minat belajar sejarah dan tampilan fisik yang butuh perbaikan.
Penjaga Monumen Trisula, Sukamto, mengungkapkan bahwa tren kunjungan menunjukkan penurunan. Kondisi itu terjadi sejak pandemi Covid-19.
“Ya memang berkurang. Yang biasanya di sini ada sekitar 1.200 orang per bulan, akhir-akhir ini hanya sekitar 800, dan paling banyak 1.000 pengunjung per bulan. Itu pun juga tidak tentu. Seingat saya hanya sekali setelah Covid-19, padahal dulu ribuan,” ujarnya.
Dulu, kata dia, banyak anak-anak sekolah, remaja, atau mahasiswa yang berkunjung untuk mengenali sejarah PKI yang ada di Desa Bakung.
Tidak jarang per hari ada 40 hingga ratusan pegunjung. Biasanya para pengunjung ini mempelajari dan memahami arsip-arsip dan peninggalan-peninggalan bersejarah. Khususnya untuk mengenal lebih dekat soal sejarah PKI di Blitar.
Saat dan setelah pandemi Covid-19, kunjungan berkisar antara 20 hingga 80 per hari. Pernah juga 400 dalam satu momen. Namun, itu jarang.
Sukamto menduga minimnya kunjungan ini disebabkan oleh beberapa hal. Seperti bergesernya budaya, minimnya pengenalan sejarah, dan kondisi lingkungan bersejarah yang kurang terawat. Bahkan, kerusakan ini semakin parah dari hari ke hari.
“Bangunan sudah aus termakan usia dan tidak ada perbaiakn. Saya rasa itu menjadi salah satu penyebab penurunan. Padahal, saya sering mengajukan untuk ada perbaikan. Namun hingga sekarang belum ada realaisasi,” ujarnya.
Kerusakan yang ada di monumen ini cukup banyak. Bagian lantai yang mulai retak, banyak lampu rusak, gedung arsip bocor dan lapuk.
Jika ini terus diabaikan, dikhawatirkan monumen peringatan G30S PKI tersebut akan rusak dan tidak lagi dikenali oleh generasi selanjutnya.
“Kelistrikan di gedung itu sudah lama rusak, namun belum pernah diperbaiki. Lampu juga pada rusak, kalau malam itu gelap,” imbuhnya
Sukamto juga sering mendengar keluhan lain dari pengunjung. Salah satunya, akses jalan menuju monumen yang dinilai kurang bagus.
“Belajar sejarah itu penting, khususnya bagi anak muda. Agar mereka paham bagaimana sejarah masa lalu. Agar mereka menghargai dan semakin mencintai negara ini,” ungkapnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila