BLITAR - Data BPS 2023, Indonesia menjadi negara terbesar penghasil kopi nomor tiga di dunia.
Peluang industri komoditas inilah yang dibidik UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno lewat Literasi Kopi berbasis transformasi inklusi sosial sejak Selasa hingga Kamis (13/6/2024) kemarin.
Kurang lebih 100 orang peserta dari berbagai background, mulai business owner, barista, petani, roaster, hingga prosesor. Literasi Kopi kali ini berbeda dengan literasi sebelumnya.
Setiap peserta akan melalui tahapan seleksi, kemudian yang lolos dilanjutkan dengan sertifikasi oleh Badan Serttifikasi Nasional Profesi (BNSP).
Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Nurny Syam, membuka dan mengikuti proses seleksi peserta Literasi Kopi yang melakukan tahapan asesmen teori dan teknis sebelum terjaring 50 peserta yang akan lolos ke proses sertifikasi.
“Sudah kesekian kali Literasi Kopi ini dilaksanakan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Namun, tahun ini, kita memfasilitasi hingga sertifikasi nasional untuk pelaku industri kopi. Harapannya, sertifikasi untuk barista ini mampu memberikan value sehingga dapat bersaing di Blitar dan sekitarnya”, ungkapnya.
Program trasnformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini, jelas dia, hadir untuk memberikan wadah dan solusi bagi masyarakat. Khususnya pelaku usaha kopi untuk meningkatkan kapabilitas serta kesejahteraannya.
Asesor dari LPK Agra Coffee Creative, Harianto menegaskan, Literasi Kopi ini merupakan bentuk kepedulian dari UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, khususnya produk dan industri kopi di Blitar.
“Kami dari Jogjakarta memberikan pendampingan pada peserta sebelum melakukan sertifikasi di hari ke-3,” ujarnya.
Selain itu, dia berharap industri kopi di Blitar dari hilir hingga hulu memiliki standar yang ter-update. Dengan begitu, ada keberlanjutan dan pengembangan wawasan terkait industri kopi benar-benar dipahami dengan sangat baik.
“Kalau sudah wadah seperti ini, tinggal menunggu perkembangan industri kopi di Blitar,” bebernya.
Salah satu peserta yang juga pemilik kedai kopi, Dita Faisal, mengaku sangat antusias dalam berkompetisi untuk mendapatkan kesempatan meraih 50 golden ticket.
Dia berharap wadah Literasi Kopi yang digelar perpustakaan ini, selain bisa mendapatkan soft skill, juga bisa mengantongi sertifikat bertaraf nasional.
“Saya mengikuti Literasi Kopi ini untuk meningkatkan skill terkait pengolahan hingga industri kopi. (guh/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila