BLITAR - Memasuki pertengahan tahun jumlah calon pekerja migran Indonesia (CPMI) mencapai puluhan.
Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (Dinkop, UM, dan Naker) Kota Blitar mengimbau masyarakat agar tidak selamanya menjadi PMI.
Pengantar Kerja Dinkop, UM, dan Naker, Madin Hilallah mengungkapkan jumlah CPMI hingga pertengahan tahun ini tercatat 99 orang.
Sedangkan jumlah CPMI pada 2023 lalu sebanyak 237 orang yang didominasi lulusan tingkat SMA/SMK.
Hingga kini pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Blitar bekerja di sektor nonformal seperti housekeeping, caretaker, caregiver, ataupun housemaid.
“Harapan kami bisa meningkat, yakni bekerja di sektor formal atau CPMI mandiri yang keterampilannya lebih profesional,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar Selasa (11/6/2024).
Di sektor formal tak hanya untuk lulusan setingkat S1 atau D3, lulusan SMA/SMK pun bisa. Mayoritas didominasi sebagai operator pabrik.
Ada pula di bidang lain seperti yang dijalani PMI asal Kelurahan Bendogerit, yakni bekerja di sektor pertambangan. Kemudian ada PMI lulusan SMK yang bekerja di bidang perhotelan.
Madin mengimbau, jangan terlalu terbuai dengan kenikmatan bekerja di luar negeri. Cukup satu atau dua kali kontrak kerja. Sekali kontrak dalam kurun waktu 3 tahun.
Dalam kurun waktu terse-but, PMI diharapkan bisa mengumpulkan modal untuk berwirausaha di Indonesia. Dengan begitu bisa meningkatkan perekonomian di Blitar.
Terkait masalah keberangkatan, pantauan dinas hingga kini masih aman terkendali. Sebab, tahapan pengurusan keberangkatan ke luar negeri dilakukan secara legal atau resmi.
Melibatkan langsung Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia yang diketahui oleh Dinkop, UM, dan Naker serta mendatangkan saksi selain dinas.
”Paling lambat, 3 bulan setelah penandatanganan perjanjian CPMI sudah diberangkatkan, hingga kiniaman,” pungkasnya. (mg1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila