BLITAR - Kabupaten Blitar sudah melewati awal musim kemarau pada akhir April lalu. Untuk menghadapi itu, BPBD Kabupaten Blitar telah memetakan daerah yang potensi kekeringan.
Selain itu, lembaga tersebut juga menyiapkan 30 rit air untuk menghadapi ancaman bencana kekeringan.
“Kini sudah memetakan daerah rawan atau potensi kekeringan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupetan Blitar, Ivong Betryanto.
Berdasarkan data pada kekeringan tahun lalu, BPBD telah melakukan dropping air pada 5 kecamatan. Di antaranya, Kecamatan Wates, Bakung; Panggungrejo; Binangun; Wonotirto; dan Kademangan.
“Kelima daerah tersebut menjadi prioritas kami dalam pengawasan bencana kekeringan tahun ini. BPBD kini sedang menyiapkan regulasi surat keputusan bupati terkait siaga kekeringan di Kabupaten Blitar,” ujar Ivong, sapaan akrabnya.
Dia mengaku, BPBD sudah mempersiapkan 3 armada untuk dropping air bersih serta berkoordinasi dengan PDAM terkait sumber air.
“Tak lupa menggandeng pentahelix (warga umum atau swasta) untuk membantu menangani masalah kekeringan,” katanya.
Untuk saat ini air yang disiapkan untuk dropping air bersih mencapai 30 rit. Namun realisasinya jumlah air yang dibutuhkan justru lebih banyak.
Tahun lalu BPBD menghabiskan 500 rit air untuk menangani kekeringan di Kabupaten Blitar. Sebab, permintaan dropping air bersih tahun lalu mulai Agustus hingga Desember.
“Untuk sekarang belum ada permintaan dropping air bersih. Karena ada beberapa titik masih hujan lebat dan ringan. Sehingga belum ada laporan daerah kekeringan,” ungkapnya.
Dari prediksi BMKG, kemarau tahun ini lebih panjang dari sebelumnya. Adanya perubahan iklim dilaporkan BMKG hingga menyebabkan kekeringan berpotensi lebih lama daripada tahun lalu.
Data BMKG juga memperlihatkan Kabupaten Blitar akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus dan September. BMKG mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk mengisi waduk, embung dan danau.
“Itu dilakukan untuk mengatasi dampak musim kemarau, termasuk kebakaran lahan, kekeringan dan kekurangan air bersih,” tandasnya. (jar/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila