Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Anggaran Sosialisasi Terbatas, Desa di Kabupaten Blitar Belum Paham Pentingnya Damkar dan Sering Lalai

Mohammad Syafi'uddin • Sabtu, 22 Juni 2024 | 02:47 WIB
JADI ARANG: Personel Damkar Kabupaten Blitar berupaya menjinakkan api yang melalap salah satu rumah warga bebeberapa waktu lalu.
JADI ARANG: Personel Damkar Kabupaten Blitar berupaya menjinakkan api yang melalap salah satu rumah warga bebeberapa waktu lalu.

BLITAR - Januari sampai Juni ini tercatat sudah ada sekitar 16 kebakaran di wilayah Kabupaten Blitar. Kelalaian menjadi salah satu pemicu peristiwa tersebut. Parahnya, sosialisasi soal damkar belum dilakukan secara masif.

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja dan Damkar Kabupaten Blitar, Edy Wiyono menuturkan, separo dari total peristiwa kebarakan disebabkan kelalaian masayarakat, khususnya saat memasak.

Hal ini diperparah dengan minimnya pengetahuan masyarakat dalam mengendalikan situasi saat terjadi kebakaran.

“Hingga pertengahan tahun ini saja sudah ada 16 kebakaran. Delapan di antaranya karena kelalaian masyarakat, karena lupa mematikan kompor saat masak, obat nyamuk di kasur, dan lain-lain,” ujarnya.

Edy mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk meminimalisasi potensi kebakaran. Alasannya karena damkar tidak memiliki anggaran lebih untuk melakukan sosialisasi masif ke masyarakat.

Kendati demikian, Edy bersyukur sudah ada beberapa kecamatan yang memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pemadaman kebakaran.

“Kami sering diundang untuk menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanganan kebakaran. Dari 22 kecamatan dan 248 desa serta kelurahan yang tersentuh sosilisasi itu belum ada 25 persen,” ungkapnya.

Kecamatan Doko menjadi salah satu wilayah yang cukup aktif. Setidaknya ada tiga desa yang menganggarkan untuk sosialisasi pencegahan dan pengendalian kebakaran. Yakni, Desa Doko, Jambemangun, dan Resapombo.

“Sosialisasi ini sangat dibutuhkan agar peristiwa dan dampak kebakaran bisa berkurang,” ungkapnya.

Selain kelalaian, kebakaran yang ada di kabupaten ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor. Seperti korsleting listrik dan pengaruh cuaca ekstrem.

“Itu memang tugas kami untuk melakukan pemadaman. Namun, kami juga bertugas untuk melakukan sosialisasi. Tujuannya agar ada pengendalian dan pencegahan dini kebakaran,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, masyarakat bisa menyediakan alat pemadaman api ringan (APAR) untuk meminimalisasi dampak kebakaran di rumah.

Jika dirasa tidak ekonomis, makabisa memanfaatkan pasir atau beberapa teknik lain dalam pemadaman kebakaran.

“Yang penting itu tidak panik. Jika panik itu malah semakin bahaya. Makanya perlu edukasi atau pelatihan cara mengendalikan api agar tidak menyebar luas,” terangnya.

Untuk diketahui, pada 2023 tercatat ada 76 kebakaran di beberapa wilayah Kabupaten Blitar. Dari keseluruhan kejadian tersebut, kerugian yang dialami berbeda-beda. Mulai dari paling rendah Rp 5 juta dan paling banyak Rp 200 juta. (mg2/c1/hai)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Kabupaten Blitar #Damkar #kebakaran