BLITAR - Tercatat sudah ada 49 bayi meninggal dalam kurun waktu enam bulan. Dari semua kasus tersebut, terbanyak disebabkan bayi berat badan lahir rendah (BBRL).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, Christine Indrawati mengungkapkan, kematian 49 bayi tersebut terjadi pada kurun waktu Januari hingga Juni tahun ini.
Penyebabnya pun bervariatif mulai dari BBRL, asfiksia atau gangguan pernapasan, dan kelainan lainnya. “BBRL ini terjadi karena gizi atau nutrisi pada bayi tidak tercukupi,” jelasnya.
Dia tidak mengetahui data secara spesifik berapa bayi yang meninggal karena BBRL ini. Sementara untuk afiksia atau gagalnya pernapasan disebabkan beberapa hal.
Seperti ganguan kehamilan, waktu persalinan bermasalah, atau saat di luar masa bersalin. Termasuk ketika ibu menyusui dan tiba-tiba bayi tersedak.
Dia menjelaskan, secara umum puluhan bayi meninggal ini karena faktor ekonomi kurang stabil dan pengetahuan minim.
“Terpenting itu pengetahuan. Jika banyak masyarakat yang tahu soal kondisi tubuh dan kebutuhan nutrisi untuk ibu hamil, kejadian tersebut bisa dihindari,” ujarnya.
Menurut dia, pemahamam seorang ibu hamil terhadap kebutuhan tubuh perlu diketahui. Termasuk olahraga, istirahat, nutrisi yang cukup, pemberian makanan begizi, dan sehat. Dengan cara ini, bayi yang lahir dipastikan bisa sehat.
Dia tidak membantah bahwa kondisi itu akan sulit tercapai untuk kalangan menengan ke bawah. Khususnya bagi keluarga kurang mampu.
“Setidaknya, masyarakat itu harus paham. Soalnya dengan memahami situasi dan kondisi diri, maka akan tahu treatment yang dibutuhkan,” tegasnya.
Kurangnya nutrisi dan kebutuhan pada bayi bisa menyebabkan berbagai hal buruk saat proses persalinan.
Termasuk ibu yang kekurangan darah, lemahnya tubuh, hingga bisa berujung operasi sesar.
“Hal ini bisa berakibat fatal pada si jabang bayi. Jika bayi lamban untuk keluar, maka akan lemah. Sehingga bayi ini akan terlambat untuk menyesuaikan diri. Bayi menjadi lemah dan bisa jadi meninggal,” ungkapnya.
Selain faktor pengetahuan dan ekonomi, pernikahan dini turut menyumbang kematian bayi. Padahal, tubuh perempuan yang siap melahirkan ialah di usia 20 tahun.
“Jika di bawah usia 20 tahun itu organ-organ reproduksi masih belum kuat. Selain itu, kemungkinan besar bayi yang lahir akan mengalami gangguan,” ujarnya. (mg2/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila