Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bambang Tri Bawono, Penulis Naskah Pementasan Kresnayana, Hanya Perlu Satu Hari Buat Naskah, Ini Latihan yang Butuh Waktu Lama

Mohammad Syafi'uddin • Selasa, 2 Juli 2024 | 17:12 WIB

 

SENI: Bambang Tri Bawono menceritakan kisah pewayangan saat memainkan wayang kulit.
SENI: Bambang Tri Bawono menceritakan kisah pewayangan saat memainkan wayang kulit.

BLITAR - Melihat seni budaya yang semakin terkikis. Menyulut Bambang Tri Bawono untuk lebih kreatif dalam menguri-uri seni budaya.

Salah satunya sebagai penulis naskah Kresnayana. Dengan pengemasan klasik berbau modern, diharapkan generasi muda bisa lebih tertarik pada even seni budaya.

Berawal dari kekhawatiran seni budaya tradisional yang semakin ditinggalkan. Bambang Tri Bawano berkeinginan untuk meningkatkan daya tarik seni tradisional.

Salah satunya dengan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar untuk membuat pagelaran seni, lalu tercetuslah ide Kresnaya yang kini menjadi ikon seni kabupaten.

“Saya itu memiliki background dalang wayang kulit. Namun ini juga beralih ke wayang orang, makanya saya menulis naskah untuk Kresnayana.

Sedangkan ide ini berasal dari bapak Sinarto selaku kepala dinas budaya provinsi yang baru-baru ini pensiun,” ujar lulusan ISI Surabaya tersebut.

Pernah menjadi dalang wayang kulit, membuat dia lebih memahami berbagai lakon wayang yang menarik dan bisa dipentaskan di panggung.

Bahkan, cerita yang sering dianggap membosankan bagi generasi muda ini, kini disulap agar lebih modern dan selaras dengan jaman. Tidak berpuas diri, kendati mengundang decak kagum dan tepuk tangan. Bambang selalu evaluasi agar pementasan Kresnayana bisa lebih bagus dari sebelumnya.

Dari pagelaran Kresnayana ke 11 beberapa waktu lalu. Dia menemukan bahwa permainan lighting masih kurang sempurna. Selain pencahayaan, suara atau audio masih perlu pembenahan agar lebih enak didengar.

“Ini masih perlu banyak pembenahan. Namun, karena saya mengerti tentang alur-alur cerita wayang kulit. Jadi saya paham dan ditugaskan untuk menulis naskan Kresnayana,” terangnya.

Tercatat sudah ada 11 naskah yang dibuat untuk pementasan ini. Berarti, Bambang sudah membuat naskah kresnayana ini sejak awal dan belum tergantikan hingga kini.

“Pagelaran kemarin itu, kita hanya membutuhkan waktu seminggu latihan. Salah satunya untuk tari koreografi. Bahkan penari dari luar itu hanya dua hari latihan sebelum manggung,” ungkapnya.

Dia mengaku, bahwa pembuatan naskah Kresnayana tidak membutuhkan waktu lama. Analisanya, satu pagelaran membutuhkan durasi tidak sampai sehari dengan kondisi mood bagus. Paling sulit dalam sebuah pementasan ialah melatih Gerakan tari dan penguasaan panggung.

Pasalnya, untuk membuat aktor bisa tampil sempurna di atas panggung membutuhkan waktu bertahun-tahun. Bahkan ada yang sejak dari kecil sudah dilatih menari.

“Kita itu masih belum bisa mandiri dalam penyelengaraan ini. Para penari ini ada yang dari luar, ini penting karena dengan kolaborasi ini, kita bisa belajar pada yang ahli,” ungkapnya.

Dalam pementasan Kresnaya yang diadakan di Ampheteater Penataran beberapa waktu lalu ada sekitar 75 tim yang terlibat. Di antaranya jumlah tersebut terdiri dari pemain alat musik tradisional ada sekitar 20, penari utama 8, koreografi 20, dan dari luar daerah ada empat.

Mengemas bentuk tarian klasik berpadu modern, Bambang tetap menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi. Menurut dia, dengan langkah ini pemuda perlahan akan tertarik dan lebih memahami. Walaupun awalnya hanya paham dari gerakan dan tindakan para pemain.

“Karena generasi sekarang itu sedikit yang paham bahasa Jawa, kita masih kesulitan untuk menyampaikan isi yang ingin disampaikan. Namun dengan gerak gerik yang menarik ini dapat menggoda gerenasi muda. Harapannya, Krenayana bisa semakin besar. Kalau bisa kita tidak lagi tergantung dari APBD, nanti bisa melalui sponsor atau yayasan Krenayana,” harapnya. (*/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#seni budaya tradisional #Bambang Tri Bawono #Kota Blitar #wayang kulit