BLITAR - Musibah tanah longsor yang dialami Gunawan bisa menjadi pelajaran berharga bagi peternak ayam di Kabupaten Blitar.
Pasalnya, tidak sedikit peternak yang memilih perbukitan sebagai lokasi usaha dengan tujuan agar tidak mengganggu kenyamanan masyarakat.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Eko Susanto menuturkan peristiwa longsor yang terjadi di Desa Bumirejo sangat disayangkan. Sebab, Bumi Penataran secara otomatis kehilangan satu peternaknya.
“Kejadian bencana yang menimpa peternak ini kita jadikan sebagai pembelajaran. Agar ke depannya tidak ada kejadian serupa,” terangnya saat di lokasi longsor, Senin (1/Jui/2024).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa sudah menyampaikan kepada badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) agar membuat rencana kontingensi bencana di Kabupaten Blitar.
Tujuanya agar mengetahui wilayah-wilayah yang memiliki potensi atau rawan terhadap tanah longsor.
Menurutnya, langkah tersebut harus dilakukan karena Kabupaten Blitar merupakan salah satu sentral peternakan ayam di Jawa Timur.
Tercatat ada sekitar 21 juta ekor populasi ayam di Kabupaten Blitar. Dengan persentase ayam petelur 74,8 persen dan pedaging 5 persen.
“Keberadaan peternak ayam ini tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Blitar. Makanya dengan adanya kejadian ini kami memiliki kewajiban untuk mengusulkan rencana kontingensi bencana. Sehingga saat bencana ini benar terjadi, kita sudah memiliki masterplan,” terangnya.
Rencana besar ini meliputi relokasi, trasportasi yang ideal, pemeliharaan, listrik, dan kesehatan yang aman.
Soalnya, bencana ini mencakup seluruh sektor sehingga perlu integrasi yang ideal agar tidak ada yang dirugikan.
“Dalam hal ini, peternakan perlu memberikan masukan. Sehingga dalam pembuatan masterplan rencana kontingensi bisa memasukkan sektor peternakan. Jadi, ada tindak lanjut ketika terjadi bencana,” terangnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila