BLITAR - Imbas cuaca ekstrem dan kekeringan membuat harga beberapa komoditas di pasar tradisional meluncur naik. Salah satunya yakni cabai rawit yang tembus Rp 38 ribu-Rp 40 ribu per kilogram (kg).
Salah satu pedagang Pasar Templek, Hartik, 54, menegaskan, kenaikan harga cabai khususnya rawit telah terjadi sejak tiga hari terakhir. Kenaikannya cukup drastis dari harga sebelumnya.
“Sebelumnya Rp 33 ribu, terus naik Rp 34 ribu, dan sekarang sudah menembus harga Rp 38 ribu,” jelasnya.
Menurut dia, selain cabai rawit merah, cabai rawit hijau saat ini menembus harga Rp 40 ribu per kg. Kenaikan harga cabai tersebut diduga imbas cuaca dan kekeringan di beberapa daerah.
Akibatnya, tanaman cabai tidak bisa berbuah secara maksimal dan hasil panen para petani menurun. “Mungkin karena setoran dari petani turun, karena panen kurang maksimal,” akunya.
Kondisi ini memantik jumlah stok barang yang tersedia sangat minim, sementara permintaan pasar justru tinggi.
Namun, kenaikan harga tersebut tidak berlaku pada komoditas cabai besar dan cabai keriting yang anteng di harga Rp 28 ribu per kg. Hal itu lantaran stok cabai jenis ini masih melimpah.
Pedagang lain, Amelia, 22, mengaku bahwa masyarakat tetap membeli cabai meskipun mengalami kenaikan harga.
“Kalau orang sini, meskipun mahal kan tetap ada yang beli. Soalnya ya memang butuh untuk masak,” terangnya.
Dilansir dari laman resmi Sistem Informasi Ketersediaan Harga Bahan Pokok (Siskaberbapo) Jawa Timur pada update Minggu (7/7/2024), menyebutkan harga cabai rawit merah di Kota Blitar Rp 43 ribu per kg.
Harga tersebut menempati posisi pertama tertinggi dibandingkan sejumlah daerah lain di Jawa Timur. (mg1/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila