BLITAR - Praktik pergaulan bebas dan kenakalan remaja perlu mendapat perhatian semua pihak.
Termasuk dari pemeritahan desa (pemdes) harus proaktif untuk menanggulangi persoalan fenomena sosial tersebut. Langkah efektif sebagai cara pencegahan kenakalan remaja bisa lewat karang taruna desa.
“Kami dari Karang Taruna Desa Plumpungrejo sengaja mengadakan sosialisasi pencegahan pergaulan bebas dan kenakalan remaja sebagai upaya tindakan preventif,” tandas Ketua Karang Taruna Desa Plumpungrejo, Kecamatan Kademangan, M. Frendy A'lamahadin, kamis (18/7/2024).
Menurut dia, pemuda memiliki peran dalam menangkal kenakalan remaja. Maka, lewat sinergitas dengan pemdes, polsek, koramil, para remaja di desa setempat sengaja dikumpulkan.
Itu didasarkan adanya kasus kenakalan remaja sehingga tentu muncul kepedulian agar tidak semakin marak. Contoh kenakalan remaja bisa berupa adanya pergaulan bebas tanpa kontrol. Akibatnya, mereka bisa terjerat narkoba hingga seks bebas yang berujung pernikahan dini.
Dampak dari pergaulan bebas ini sangat mengerikan. Yakni bisa merusak masa depan remaja yang merupakan generasi emas bangsa.
“Misalkan dampak pernikahan dini bisa mengakibatkan stunting, karena secara psikologis dan kesehatan ibu hamil belum siap,” ungkapnya.
Jadi, kata dia, adanya penyuluhan dari aparat, termasuk babinsa dan bhabinkamtibmas, sangat membantu kesadaran para remaja. Jangan sampai terjadi pergaulan bebas.
Dia menambahkan, antusiasme dari para peserta sangat luar biasa. Mereka rata-rata masih tingkat SMA ini bisa membekali diri dengan wejangan para pemateri.
“Mudah-mudahan untuk tahun depan akan lebih meriah dan diikuti banyak remaja desa, sehingga bisa lebih masif,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Plumpungrejo, Subakat, sangat mendukung kegiatan dari karang taruna terkait penanggulangan kenakalan remaja.
Apalagi, para remaja di desa masih punya masa depan panjang sehingga jangan sampai terjerumus hal negatif. “Pemuda merupakan harapan bangsa untuk meneruskan pembangunan,” katanya.
Dia tidak berpikir panjang ketika ada kegiatan positif dari para pemuda desa sehingga langsung memberikan izin.
Setelah kegiatan pada malam hari tersebut, mental-mental para remaja diharapkan bisa tertata dan menaati aturan hukum. “Siapa lagi yang menggantikan para sesepuh desa kalau bukan para pemuda,” tandasnya.
Selain itu, mereka yang sudah ikut kegiatan ini diharapkan tetap berperilaku baik di mana pun. Sebab, hal itu merupakan kunci ketertiban dalam bermasyarakat. (iyo/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila