BLITAR – Setiap tahun ada ribuan pekerja migran indonesia (PMI) asal Kabupaten Blitar yang berangkat ke luar negeri setiap tahun.
Hongkong dan Taiwan masih menjadi primadona bagi CPMI yang mengais rejeki. Faktor ekonomi masih menjadi alasan utama menjadi PMI.
Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar, Yopie Kharisma Sanusi mengatakan, hingga Juni 2024 ini sudah ada 1.923 orang yang mendaftar dan siap berangkat kerja ke luar negeri. Jumlah itu diprediksi mendekati angka PMI pada tahun lalu.
“Pada 2023 lalu PMI dari Kabupaten Blitar ada 4.167 orang. Negara yang paling banyak menjadi tujuan para PMI, yaitu, Hongkong dan Taiwan. Sebab, gaji di Hongkong dan Taiwan lebih besar dari negara lain,” ujar Yopie.
Namun PMI asal Bumi Penataran juga melirik negara lain sebagai opsi lainnya. Diantaranya Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Korea Selatan dan Jepang. Negara-negara tersebut dinilai memiliki lowongan kerja yang lebih variatif.
Rata-rata usia warga yang memutuskan menjadi PMI masih muda dan dalam masa produktif untuk bekerja.
Paling banyak mereka kerja di sektor informal seperti asisten rumah tangga (ART) dan perawat orang tua di panti jompo.
Maka itu, mayoritas PMI di Kabupaten Blitar perempuan. Meskipun begitu, untuk menjadi PMI ada batasan usia, yakni maksimal 40 tahun.
“Kami tidak lepas tanggungjawab terhadap purna PMI. Kami memiliki program pemberdayaan. Program pemberdayaan itu meliputi pelatihan wira usaha dengan harapan para mereka bisa mandiri setelah pulang ke Indonesia,” ungkapnya.
Yopie menjelaskan, beberapa pelatihan untuk mantan PMI diantaranya bidang kuliner. Seperti membuat kue kering, bakso dan macam-macam masakan lain. Hasilnya banyak purna PMI yang membuka usaha kuliner.
Mereka juga menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitarnya. Selain itu, uang hasil kerja jadi PMI juga bisa dimanfaatkan tepat sasaran untuk modal usaha di kampung halaman.
"Kami harap setelah pulang, uang tidak habis dipakai untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Maka dari itu, harus membuka usaha. Orientasi kami agar mereka setelah pulang bisa berdikari sendiri. Kami ingin memutus rantai agar mereka tidak terus jadi pekerja," pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila