BLITAR - Kasus kekerasan pada anak, baik secara verbal maupun fisik ternyata masih marak terjadi ditengah masyarakat. Sayangnya, kasus seperti itu jarang terpublikasi lantaran korban yang enggan melapor.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Blitar, Parminto mengungkapkan, kekerasan pada anak maupun bullying memang masih marak terjadi. Kendati begitu, korban enggan melapor lantaran malu.
“Ada, tapi tidak banyak yang melapor, dalam sebulan rata-rata ada 1-2 korban,” jelasnya pada Koran ini senin (22/7/2024).
Menurut dia, kasus tersebut paling banyak terjadi pada anak usia sekolah. Berdasarkan data, jumlah kasus anak yang dilaporkan hingga pertengahan tahun ini sejumlah lima kasus, meliputi kekerasan seksual, bullying, dan ketergantungan gadget.
Umumnya, pelaku bullying masih ada, sebab kurang mendapat perhatian maupun kurang rasa simpati dan empati dari masyarakat.
Sehingga, dia mengimbau kepada para orang tua untuk berpartisipasi menurunkan angka bullying dengan cara lebih memperhatikan anak, khususnya ketika di rumah.
Kasus bullying ini, jelas dia, menjadi sorotan utama dari berbagai organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait. Bahkan, pada masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) beberapa waktu lalu yang mengusung tema besar anti-bullying.
“Iya, kemarin MPLS kita juga sosialisasikan untuk tidak melakukan bullying. Sebab, usia sekolah ini sangat rentan dengan praktik ini,” jelasnya.
Dia mengatakan, ketika hal seperti ini terjadi, DP3AP2KB memfasilitasi korban dengan pendampingan dari psikolog untuk mengantisipasi munculnya trauma pada anak.
Namun, hal itu baru bisa ditindaklanjuti ketika korban atau keluarga korban memberikan aduan. Pihaknya juga melakukan program jemput bola ke sekolah untuk memantau adanya kasus bullying tersebut.
Selain pada sekolah umum, DP3AP2KB juga menggetolkan sosialisasi dan edukasi pada pondok pesantren yang ada di Kota Blitar. Lantaran, praktik bullying rawan terjadi pada sejumlah anak yang berkumpul dalam satu tempat.
Dia menargetkan, seluruh sekolah dan ponpes bebas bullying. Apabila ada sekolah yang merasa belum diberikan edukasi, bisa meminta ke dinas.
Dia berharap, melalui berbagai upaya tersebut dapat menurunkan angka bullying. Dengan begitu, anak-anak yang kini tengah dipersiapkan menjadi generasi Indonesia Emas bisa memiliki karakter yang baik.
“Anak-anak merupakan aset bangsa, ya harapan kami sebagai calon-calon pemimpin ini bisa cerdas, sehat, dan berkarakter. Disamping pemerintah memberikan sarana prasarana, orangtua diharapkan juga bisa kolaborasi dengan berperan aktif mendampingi anak-anaknya,” ujarnya.
Perlu diketahui, pada 2023 lalu Kota Blitar menerima predikat kota layak anak dengan predikat nindya. Dia menargetkan pada penilaian selanjutnya bisa mempertahankan predikat atau memperoleh hasil diatasnya.
Pemerintah berkomitmen untuk menunjang kesejahteraan anak mulai dari hak hidup, tumbuh kembang, dan partisipasi anak melalui berbagai fasilitas penunjang. (mg1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila