BLITAR - Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu sempat memukul telak pelaku usaha. Namun, lambat laun beberapa warga mulai merintis usahanya.
Dan, pelan tapi pasti mulai menunjukkan hasil signikan. Seperti usaha kebun anggur milik Suparman yang menjadi daya tarik sendiri. Bahkan, usaha ini telah membuka sekitar 1 hektare lahan baru.
MESKIPUN panas menyengat kulit, tapi tidak menghalangi beberapa warga bercengkerama di gazebo sebuah wisata buatan di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro.
Dari kelima warga tersebut, salah satunya bernama Suparman, petani yang merawat tanaman anggur.
Di awal pertemuan tersebut, wartawan Koran ini diajak berkeliling di perkebunan yang terletak di sisi barat dari jalan utama desa tersebut.
Di lahan yang luas itu, ada enam varietas anggur yang menjadi kebanggan wisata edukasi ini. Seperti, anggur jupiter, anggur hosti, anggur dixon, anggur nine, anggur everest, dan anggur tamaki.
“Di sini ada enam varietas anggur dari berbagai negara, seperti anggur tamaki dari Jepang. Bahkan belum lama ini panen kami dikunjungi Ibu Bupati Blitar,” ujarnya bangga.
Menurut dia, perawatan anggur dari nol hingga mampu panen membutuhkan ketelitian, ketelatenan, dan kesabaran. Hal ini diperlukan agar tanaman anggur ini bisa berbuah.
Paling tidak proses ini membutuhkan durasi waktu selama 8 bulan. Dari pengakuanya, usaha ini sudah dirintis sejak tiga tahun lalu atau seusai pandemi.
Dari proses menanam, perawatan, hingga panen hampir setiap hari selalu dicek seperti apa perkembangan tanaman merambat ini. Mengecek pertumbuhan dan perkembangn daun. Jika dirasa ada hama, segera disemprot.
“Ini kita punya 12x8 meter lahan yang setahun dua kali kita panen. Dari sukses ini, kita menambah lahan lagi sekitar 1 hektare kurang, tapi masih kecil-kecil,” ungkapnya.
Usahanya tidak lepas dari cara promosi yang bisa dibilang modern, yakni pemanfatan media sosial (medsos) sebagai sarana promosi.
Dengan cara ini, peredaran atau penjualan anggur bisa cepat terserap ke pasaran. Padahal untuk lokasi kebun sendiri di dalam gang yang lumayan jauh dari jalan raya.
“Dari enam varietas ini, kami jual sekitar 100 ribuan per kilogram (kg), sedangkan setiap batang itu ada sekitar 25 kg,” ujarnya. (mg2/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila